"Anda boleh marah dengan keadaan anda yang buruk tapi jangan sampai merusak tubuh karena anda akan sangat menyesal ketika keadaan anda membaik" "Hidup ini berputar bagai roda, ada saatnya anda tersenyum dan ada saatnya anda mengkerutkan dahi, cobalah untuk mendapatkan pelajaran berharga di setiap kondisi anda" "Tersenyumlah di setiap pertemuan karena senyum mengikat batin yang memandangnya" "Minta maaflah ketika anda salah agar tali silaturahmi tetap terjalin baik" "Cobalah untuk berdo'a ketika anda dalam kesulitan karena do'a menghubungkan anda dengan sang pencipta agar anda selalu dalam lindungan dan pertolongannya" "Marahlah semarah marahnya tapi anda harus tahu orang di hadapan anda juga punya perasaan"You are very concerned with your life, welcome to the blog circumference of human energy, the material on this blog may be beneficial to your life. "you may be angry with your bad situation but not to damage the body because you will be very sorry when the state you better "" Life is like a spinning wheel, there are times when you smile and there are times when you constrict the forehead, try to get a valuable lesson in every condition you "" Smile at each meeting for the inner tie smile looking at her "" Apologize when you're wrong order ties remain intertwined good "" Try to pray when you are in trouble because of prayer connects you with the creator so that you are always in the shadow and his help "" Be angry angry angry but you have to know the person in front of you also have a feeling "

Kamis, 31 Januari 2013

PERKEMBANGAN SOSIAL


PERKEMBANGAN SOSIAL 

A.           PENGERTIAN

Menurut Plato, Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial (zoon politicon). Syamsudin mengungkapkan bahwa ”sosialisasi adalah proses belajar untuk menjadi makhluk sosial”, sedangkan menurut Loree ”sosialisasi merupakan suatu proses dimana individu (terutama) anak melatih kepekaan dirinya terhadap rangsangan-rangsangan sosial terutama tekanan-tekanan dan tuntutan kehidupan (kelompoknya) serta belajar bergaul dengan bertingkah laku, seperti orang lain di dalam lingkungan sosialnya”.
Muhibin mengatakan bahwa perkembangan sosial merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya. Adapun Hurlock mengutarakan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. ”Sosialisasi adalah kemampuan bertingkah laku sesuai dengan norma, nilai atau harapan sosial”.

B.           PROSES PERKEMBANGAN SOSIAL

Untuk menjadi individu yang mampu bermasyarakat diperlukan tiga proses sosialisasi. Proses sosialisasi ini tampaknya terpisah, tetapi sebenarnya saling berhubungan satu sama lainnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hurlock yaitu sebagai berikut:
  1.           Belajar untuk bertingkah laku dengan cara yang dapat diterima masyarakat
  2.           Belajar memainkan peran sosial yang ada di masyarakat
  3.           Mengembangkan sikap/tingkah laku sosial terhadap individu lain dan aktivitas sosial yang ada di masyarakat.

Pada perkembangannya, berdasarkan ketiga tahap proses sosial ini, individu akan terbagi ke dalam dua kelompok, yaitu individu sosial dan individu nonsosial. Kelompok individu sosial adalah mereka yang  tingkah lakunya mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka mampu untuk mengikuti kelompok yang diinginkan dan diterima sebagai anggota kelompok. Adakalanya mereka selalu menginginkan adanya orang lain dan merasa kesepian bila berada seorang diri. Selain itu mereka juga merasa puas dan bahagia jika selalu berada dengan orang lain. Adapun kelompok individu nonsosial, mereka adalah orang-orang yang tidak berhasil mencerminkan ketiga proses sosialisasi. Mereka adalah individu yang tidak tahu apa yang diharapkan kelompok sosial sehingga tingkah laku mereka tidak sesuai dengan harapan sosial. Kadang-kadang mereka tumbuh menjadi individu antisosial, yaitu individu yang mengetahui harapan kelompok sosial, tetapi dengan sengaja melawan hal tersebut. Akibatnya individu antisosial ini ditolak atau dikucilkan oleh kelompok sosial.
Selain kedua kelompok tadi, dalam perkembangan sosial ini adapula istilah individu yang introvert dan extrovert. Introvert adalah kekcenderungan seseorang untuk menarik diri dari lingkungan sosialnya. Minat, sikap ataupun keputusan-keputusan yang diambil selalu didasarkan pada perasaan, pemikiran, dan pengalamannya sendiri. Tipe orang introvert biasanya pendiam dan tidak membutuhkan orang lain karena merasa segala kebutuhannya bisa dipenuhi sendiri. Sedangkan extrovert adalah kecenderungan seseorang untuk mengarahkan perhatian ke luar dirinya sehingga segala minat, sikap, dan keputusan-keputusan yang diambilnya lebih ditentukan oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar dirinya. Orang-orang extrovert biasanya cenderung aktif, suka berteman, dan ramah tamah.
Karakteristik yang menggambarkan individu dengan penyesuaian diri baik, yaitu sebagai berikut:
  1.           Dapat menerima tanggung jawab sesuai dengan usianya.
  2.           Menikmati pengalamannya.
  3.           Mampu memecahkan masalah dengan segera.
  4.           Dapat melawan dan mengatasi hambatan untuk merasa bahagia.
  5.           Mampu membuat keputusan dengan kekhawatiran dan konflik yang minimum.
  6.           Tetap pada pilihannya sehingga ia menemukan  bahwa pilihannya itu salah.
  7.           Merasa puas dengan kenyataan
  8.           Dapat menggunakan pikiran sebagai dasar untuk bertindak, tidak untuk melarikan diri.
  9.           Belajar dari kegagalan tidak mencari alasan untuk kegagalannya.
 10.        Tahu bagaimana harus bekerja pada saat kerja dan bermain pada saat main.
 11.        Dapat berkata tidak pada situasi yang mengganggunya.
 12.        Dapat berkata ya pada situasi yang  membantunya.
 13.        Dapat menunjukkan kasih sayang.
 14.        Dapat menahan sakit dan frustasi bila diperlukan.
 15.        Dapat berkomproni ketika mengalami kesulitan
 16.        Dapat mengkonsentrasikan energynya pada tujuan.
 17.        Menerima kenyataan bahwa hidup adalah perjuangan yang tak ada habisnya.

C.           PENGEMBANGAN SOSIAL MELALUI TAHAPAN BERMAIN SOSIAL

Aktivitas bermain bagi seorang anak memiliki peranan yang cukup besar dalam mengembangkan kecakapan sosialnya sebelum anak mulai berteman. Aktivitas bermain menyiapkan anak dalam menghadapi pengalaman sosialnya. Sikap yang dapat dikembangkan melalui kegiatan bermain, antara lain:

  1.           Sikap Sosial
Bermain mendorong anak untuk meninggalkan pola berpikir egosentrisnya. Dalam situasi bermain anak ”dipaksa” untuk mempertimbangkan sudut pandang teman bermainnya sehingga ia menjadi kurang egosentris. Dalam permainan, anak belajar bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Mereka mempunyai kesempatan untuk belajar menunda kepuasan sendiri selama beberapa menit. Misalnya saat menunggu giliran bermain, ia peduli terhadap hak-hak orang lain. Lebih lanjut ia pun akan belajar makna kerja tim dan semangat tim.

  2.           Belajar Berkomunikasi
Untuk dapat bermain dengan baik bersama orang lain, anak harus bisa mengerti dan dimengerti oleh teman-temannya. Hal ini mendorong anak untuk belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik, bagaimana membentuk hubungan sosial, bagaimana menghadapi dan memecahkan masalah-masalah yang timbul dalam hubungan tersebut.

  3.           Belajar Mengorganisasi
Saat bermain bersama orang lain, anak juga berkesempatan belajar ”berorganisasi”, Bagaimana ia harus melakukan pembagian ”peran” di antara mereka yang turut serta dalam permainan tersebut, misalnya siapa yang menjadi guru dan siapa yang menjadi muridnya.



  4.           Lebih menghargai orang lain dan perbedaan-perbedaan
Bermain memungkinkan anak mengembangkan kemampuan empatinya, Saat bermain dalam sebuah peran, misalnya anak tidak hanya memerankan identitas si tokoh, tetapi juga pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan tokoh tersebut. Bermain peran membantu anak membangun pemahaman yang lebih baik atas orang lain, lebih toleran, serta mampu berlapang dada terhadap perbedaan-perbedaan yang dijumpai.

  5.           Menghargai Harmoni dan Kompromi
Saat dunianya semakin luas dan kesempatan berinteraksi semakin sering dan bervariasi maka akan tumbuh kesadarannya akan makna peran sosial, persahabatan, perlunya menjalin hubungan serta perlunya strategi dan diplomasi dalam berhubungan dengan orang lain. Anak tidak akan begitu saja merebut mainan teman, misalnya karena ia tahu akan konsekuensi ditinggalkan atau dimusuhi.
Setelah kita memahami peranan bermain dalam mengembangkan keterampilan sosial anak, selanjutnya kita akan membahas tentang tingkatan bermain sosial berdasarkan usia dan perkembangan sosial anak. Perkembangan tingkatan bermain ini akan terus berkembang sesuai dengan berkembangnya keterampilan sosial yang dimiliki anak.
Padmonodewo menjelaskan lima tingkatan dalam bermain sosial, yaitu:
     1.        Bermain Soliter
Anak-anak bermain dalam satu ruangan, mereka tidak saling mengganggu dan tidak saling memperhatikan. Sangat mungkin dalam satu ruangan ada anak yang sedang asyik bermain boneka, sementara ada anak lain yang sama asyiknya sedang bermain balok dan mobil-mobilan.

     2.        Bermain sebagai Penonton/Pengamat
Pada tahap ini anak-anak mulai peduli terhadap teman-temannya yang bermain di satu ruangan, sekalipun ia masih bermain sendirian. Selama anak bermain sebagai penonton ia terlihat pasif. Padahal, ia sangat memperhatikan dan mengamati teman-temannya, apa yang sedang dimainkan dan bagaimana hasilnya. Si anak mungkin sedang berbicara dengan ibunya atau sedang bermain balok. Namun, pada tahapan ini ia sering kali menoleh dan memperhatikan temannya yang sedang asyik melakukan permainan lain.

     3.        Bermain Paralel
Beberapa anak bermain bersama dengan mainan yang sama dalam satu ruangan. Namun, apa yang dilakukan masing-masing anak tidak saling tergantung dan berhubungan. Jika ada seorang anak yang meninggalkan arena, permainan anak-anak lain masih tetap dapt berjalan. Di Taman Kanak-kanak kita sering melihat anak-anak bergerombol di area pasir. Masing-masing anak sibuk sendiri dengan pikiran dan imajinasinhya sendiri. Ada anak yang membuat kue, ada yang membuat menara pasir, adapula anak yang asyik membuat bentuk-bentuk yang dicetak. Masing-masing asyik bermain tidak saling tergantung dalam melakukan aktivitas tersebut sehingga ketika ada satu anak yang telah menyelesaikan mainannya dan pindah  ke area yang lain, anak-anak yang lain tidak terpengaruh dan tetap dapat melanjutkan permainannya.

     4.        Bermain Asosiatif
Adalah permainan yang melibatkan beberapa orang anak, namun belum terorganisasi. Masing-masing anak tidak mendapatkan peran yang spesifik sehingga jika ada anak yang tidak mengikuti aturan, permainan tetap dapat berlangsung.

     5.        Bermain kooperatif
Bermain kooperatif dilakukan secara berkelompok, masing-masing anak memiliki peran untuk mencapai tujuan permainan. Misalnya menirukan kegiatan di pasar, dimana ada anak yang berperan sebagai penjual dan pembeli. Jika ada satu anak yang berhenti dari permainan maka permain permainan tidak dapat dilanjutkan. Contoh lain bermain kooperatif adalah pada permainan ”Benteng-bentengan” yang melibatkan dua kelompok yang beranggota sama. Jika ada satu anak yang berhenti maka permainan tidak dapat dilanjutkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar