"Anda boleh marah dengan keadaan anda yang buruk tapi jangan sampai merusak tubuh karena anda akan sangat menyesal ketika keadaan anda membaik" "Hidup ini berputar bagai roda, ada saatnya anda tersenyum dan ada saatnya anda mengkerutkan dahi, cobalah untuk mendapatkan pelajaran berharga di setiap kondisi anda" "Tersenyumlah di setiap pertemuan karena senyum mengikat batin yang memandangnya" "Minta maaflah ketika anda salah agar tali silaturahmi tetap terjalin baik" "Cobalah untuk berdo'a ketika anda dalam kesulitan karena do'a menghubungkan anda dengan sang pencipta agar anda selalu dalam lindungan dan pertolongannya" "Marahlah semarah marahnya tapi anda harus tahu orang di hadapan anda juga punya perasaan"You are very concerned with your life, welcome to the blog circumference of human energy, the material on this blog may be beneficial to your life. "you may be angry with your bad situation but not to damage the body because you will be very sorry when the state you better "" Life is like a spinning wheel, there are times when you smile and there are times when you constrict the forehead, try to get a valuable lesson in every condition you "" Smile at each meeting for the inner tie smile looking at her "" Apologize when you're wrong order ties remain intertwined good "" Try to pray when you are in trouble because of prayer connects you with the creator so that you are always in the shadow and his help "" Be angry angry angry but you have to know the person in front of you also have a feeling "

Kamis, 31 Januari 2013

MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF DI SEKOLAH DASAR


MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF
DI SEKOLAH DASAR

A. PENGANTAR
          Istilah model diartikan sebagai barang atau benda tiruan dari benda sesungguhnya, seperti globe adalah model dari bumi tempat kita hidup. Dalam konseks pembelajaran,  Joyce dan Weil (Udin S.Winataputra, 2001) mendefinisikan model sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Jadi, model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu
Di dalam literatur ditemukan berbagai macam model pembelajaran. Beberapa diantara model pembelajaran tersebut diasumsikan dapat dimanfaatkan dalam melaksanakan pembelajaran di SD. Untuk memilih/menentukan model pembelajaran yang sesuai untuk peserta didik pada jenjang pendidikan tertentu,  perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik dan prinsip-prinsip belajar,(seperti kecepatan belajar, motivasi, minat, keaktivan siswa dan umpan balik/penguatan), serta yang tidak kurang pentingnya adalah bahwa pemilihan model-model  pembelajaran  seyogianya berbasis pada pendekatan pembelajaran yang  berorientasi pada konsep pembelajaran mutakhir

B. PENDEKATAN KONTEKSTUAL SEBAGAI BASIS DALAM PENGEMBANGAN   MODEL-MODEL PEMBELAJARAN EFEKTIF

1. Latar Belakang Pembelajaran Kontekstual

         Salah satu kecenderungan pemikiran yang berkembang dewasa ini berkaitan dengan proses belajar anak adalah bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Menurut kecenderungan pemikiran ini, belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning/CTL), menurut Nurhadi, dkk. (2004)  merupakan suatu konsep belajar dimana guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa  membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Proses pembelajaran akan berlangsung lebih alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan  transfer pengetahuana dari guru. Dengan konsep ini, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa untuk memecahkan persoalan, berpikir kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan jangka panjangnya. Dalam konteks itu,  siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya.

2. Pengertian dan Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
    Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah suatu konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannnya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni konstruktivisme, bertanya, menemukan, masyarakat belajar, pemodelan dan penilaian sebenarnya. Dari pengertian pembelajaran kontekstual tersebut dapat disimpulkan karakteristik pembelajaran kontekstual sebagai berikut :
    > Kerjasama
    > Saling menunjang
    > Menyenangkan, tidak membosankan
    > Belajar dengan bergairah
    > Pembelajaran terintegrasi
    > Menggunakan berbagai sumber
    > Siswa aktif
    > Sharing dengan teman
  
3. Kecenderungan Pemikiran tentang Belajar
        Beberapa kecenderungan pemikiran dalam teori belajar yang mendasari filosofi pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut :
a. Pemikiran tentang Belajar       
1) Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan  dibenak mereka sendiri.
2) Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru.
3) Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subject matter)
4) Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah tetapi mencerminkan ketarampilan yang dapat diterapkan
5) Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru
6) Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide
7) Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang.   
b. Transfer Belajar
    1) Pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang dapat diterapkan/ditransfer dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks lainnya.
   2) Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
   3) Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit), sedikit demi sedikit
   4) Penting bagi siswa tahu untuk apa ia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.
c. Siswa sebagai Pembelajar
     1) Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru
     2) Strategi itu belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
     3) Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui
     4) Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi meraka sendiri
4. Pentingnya Lingkungan Belajar
    1) Belajar efektif dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru ”akting di depan kelas, siswa menonton” ke ”siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan”
    2)  Pengajaran harus berpusat pada ’bagaimana cara” siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
     3) Umpan balik amat penting bagi siswa yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar
     4) Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
4. Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional
No.
Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Tradisional
1.
Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa
Pemilihan informasi ditentukan oleh guru
2.
Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran
Siswa secara pasif menerima informasi
3.
Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/masalah yang disimulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
4.
Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan
5.
Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang
Cenderung berfokus pada satu bidang
6.
Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok)
Waktu belajar siswa sebagian besar dipergunakan untuk mengerjakan buku tugas, mendengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individual)
7.
Perilaku dibangun atas kesadaran sendiri
Perilaku dibangun atas kebiasaan
8.
Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman
Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan
9.
Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan
Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilaio (angka) rapor
10.
Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tersebut keliru dan merugikan
Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman
11.
Perilaku baik berdasarkan motivasi intrinsik
Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik
12.
Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, kontesks dan setting
Pembelajaran hanaya terjadi dalam kelas
13.
Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik
Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan

5. Komponen Utama Pembelajaran Kontekstual
    Terdapat tujuah komponen utama yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual , yaitu
    a. Konstruktrivisme
    b. Inkuiri
    c.  Bertanya
    d. Masyarakat Belajar
    e. Pemodelan
    f. Refleksi
    g. Assesmen  autentik
6. Penyusunan Rencana Pembelajaran Kontekstual
    Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan autentic assessmen. Dalam kaitan ini, program yang dirancang guru benar-benar merupakan rencana pembelajaran yang bersifat kondisional tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan yang mendasar antara format program pembelajaran kontekstual dengan program pembelajaran konvensional. Yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
     Atas dasar itu, rambu utama  yang perlu diperhatikan dalam penyusunan rencana pembelajaran kontekstual adalah sebagai berikut :
     a. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara : Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Materi Pokok, dan Pencapaian Hasil Belajar
     b. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
     c. Rincian media untuk mendukung kegiatan itu


     d. Buatlah skenario kegiatan siswa tahap demi tahap
     e. Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran  
7. Contoh Skenario Pembelajaran Kontekstual (dalam mp. Sains)
    a. Kelas dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil a 4-5 orang
    b. Masing-masing kelompok menghadap meja yang diatasnya telah tersedia 1 toples berisi air dan ikan, penggaris, termometer, dan kertas manila masing-masing 1 buah, dan  kertas quarto sesuai yang dibutuhkan
    c. Selama empat puluh menit, kelompok siswa mengamati ikan yang ada dalam toples. Siswa diminta mengamati ikan tersebut, mencatat semua aspek yang mereka amati : ukuran, warna, perkiraan beratnya, perilaku ikan, dsb.
    d. Siswa menyajikan hasil pengamatan di kertas karton. Kreativitas dalam menyajikan hasil pengamatan sangat dihargai : boleh dengan gambar, bagan atau verbal. Juga siswa diharapkan mampu membedakan antara data kuantitatif dengan data kualitatif yang mereka temukan
     e. Setiap kelompok mempresentasikan/menyajikan hasil kelompok mereka.
     f. Syaring pendapat berkenaan dengan temuan/hasil pengamatan kelompok
     g. Reionforcement/penghargaan diberikan bagi kelompok yang memperoleh hasil terbaik (baik dari segi kelengkapan temuan maupun dari segi kualitas laporan dan presentasi) 

C. MODEL-MODEL  PEMBELAJARAN  EFEKTIF  BERBASIS PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL.

      Terdapat sejumlah model pembelajaran efekktif berbasis kontekstual yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran di SD, diantaranya yaitu pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), pembelajaran kooperatif dengan berbagai tipenya, (seperti Student-Teams Achievement Divisions/STAD (Tim Siswa Kelompok Prestasi), JIGSAW (Model Tim Ahli) dan GI (Group Investigation), think-pair and share, numbered head together, picture and picture, examples non examples, pengajaran berbasis inkuiri, pengajaran berbasis tugas/proyek (Project based learning),    demonstration, role playing, pemodelan (modelling), dsb.
Dalam naskah ini hanya akan dibahas tiga diantaranya secara singkat, yaitu :


1. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)
     Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning)adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
    Pengajaran berbasis masalah  digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Pengajaran berbasis masalah, menurut Ibrahim dan Nur (2002) dikenal dengan nama lain seperti Project-Based Teaching (Pembelajaran berbasis Project), Experience-Based Education (Pendidikan berdasarkan pengalaman), Authentic Learning (Pembelajaran Autentic) Dan Anchored instruction (Pembelajaran berakar pada kehidupan nyata). Peranan guru dalam pembelajaran berbasis masalah adalah menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
    Langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah dan bagaimana peranan guru di dalamnya dapat digambarkan sbb.   
      Tahapan
Tingkah laku
Tahap 1
Orientasi siswa kepada masalah

Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan dan memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih
Tahap 2
Mengorganisir siswa untuk
 Belajar

Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dsb.)
Tahap 3
Membimbing penyelidikan
individual dan kelompok
Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah

Tahap 4
Mengembangkan dan
menanyakan hasil karya

    Guru membantu siswa dalam merencanakan, menyiapkan karya yang sesuai sperti laporan, dan membantu mereka berbagai tugas dengan temannya

Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.



2. Model Student Teams Achievement Division (STAD)
    Model Student Teams Achievement (Tim Siswa Kelompok Prestasi) adalah salah satu model pembelajaran kooperatif. Model ini  dikembangkan oleh Robert Slavin dan kawan-kawannya. Metode ini merupakan metode yang paling sederhana dalam pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan pembelajaran STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa setiap minggu, baik melalui penyajian verbal manupun tertulis. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok atau tim masing-masing terdiri atas 4 atau 5 orang anggota kelompok yang bersifat heterogen (baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun potensi akademik/kemampuannya). Tiap anggota kelompok menggunakan lembar kerja akademik dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar sesama anggota kelompok. Secara periodic, dilakukan evaluasi oleh guru untuk mengetahui tingkat penguasaan mereka (baik individual maupun kelompok) terhadap bahan akademik yang telah dipelajari. Setiap siswa atau tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individual atau tim yang meraih prestasi tinggi atau memperoleh skor sempurna diberi reinforcement.
    Secara singkat langkah-langkah pembelajaran STAD terdiri atas:
    a. Membentuk kelompok heterogen a 4-5 orang anggotanya
    b. Guru menyajikan pelajaran
    c. Guru memberi tugas
    d. Guru  memberi  kuis/pertanyaan  kepada  seluruh  siswa. Pada  saat  menjawab  kuis, tidak dibolehkan siswa saling membantu.
    e. Memberi evaluasi
    f. Kesimpulan

3. Model Jigsaw (Model Tim Ahli)
    Model Jigsaw dikembangkan oleh Eliot Aronson dan kawan-kawannya dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan kawan-kawannya. Seperti halnya pada model STAD, pada model Jigsawpun, kelas dibagi menjadi beberapa kelompok/tim a 4-5 orang anggotanya yang bersifat heterogen. Bahan akademik disajikan kepada siswa dalam bentuk teks dan tiap siswa diberi tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian dari bahan akademik tersebut. Para anggota dari berbagai kelompok/tim yang berbeda memiliki tanggung jawab untuk mempelajari satu bagian bahan  akademik yang sama dan selanjutnya berkumpul untuk saling membantu mengkaji bahan tertsebut. Kelompok siswa yang dimaksud disebut ”kelompok pakar  (expert group)”. Sesudah kelompok pakar berdiskusi dan menyelesaikan tugas, maka anggota dari kelompok pakar ini kembali ke kelompok semula (home teams) untuk mengajar (membuat mengerrti) anggota lain dalam kelompok semula tersebut.
    Secara singkat, langkah-langkah pembelajaran Jigsaw terdiri atas :
    a. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok heterogen a 4-5 orang
    b. Tim anggota dalam kelompok/tim diberi bagian materi yang berbeda
    c. Anggota dari tim tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka
    d. Jika  kelompok ahli selesai mendiskusikan tugasnya, maka anggota kelompok kembali ke kelompok asal/semula (home teams) untuk mengajar anggota lainnya dalam kelompok semula
    e. Tiap kelompok/tim ahli mempresentasikan hasil diskusi
    f. Guru memberi evaluasi
    g. Kesimpulan/penutup

4. Model Group Investigation (GI)
    Dasar-dasar metode group investigation (investigasi kelompok) dirancang oleh Herbert Thelen, selanjutnya dikembangkan oleh oleh Sharan dan kawan-kawannya. Dibandingkan dengan model STAD dan Jigsaw, group investigation merupakan model pembelajaran yang lebih kompleks dan paling sulit dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Pada model group investigation, sejak awal siswa dilibatkan mulai dari tahap perencanaan baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Dalam pelaksanaanya, mempersyaratkan para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Pengelompokan siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil a 5-6 orang dapat bersifat heterogen dan dapat juga didasarkan pada kesenangan berteman atau kesamaan minat. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti/melakukan  investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan
     Secara singkat langkah-langkah group investigation adalah sbb. :
     a. Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
     b. Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
     c. Guru memanggil ketua kelompok dan setiap kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda dari kelompok lain
     d. Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada secara kooperatif yang bersifat penemuan
     e. Setelah selesai diskusi, juru bicara kelompok menyampaikanhasil pembahasan kelompok
     f. Guru memberi penjelasan singkat dan sekaligus memberikan kesimpulan
     g. Penutup.

D. PENUTUP  
     Disamping mnode-model pembelajaran yang dikemukakan di atas, dalam konteks pembelajaran masih tersedia cukup banyak model-model  pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan (PAIKEM) yang dapat dipilih dan digunakan oleh guru di kelas. Sebagai guru yang profesional,  seyogianya setiap guru selalu berupaya mengembangkan/meningkatkan kemampuannya dengan mengkaji berbagai model pembelajaran tersebut dan  yang tidak kurang pentingnya adalah menuntut komitmen dari setiap guru untuk senantiasa memilih dan menerapkan model pembelajaran yang terbaik untuk kepentingan peserta didik.




DAFTAR PUSTAKA

Ibrahim, M & Mohamad N (2000).Pengajaran Berdasarkan Masalah, Surabaya : Pusat Sains dan Matematika Sekolah, Program Pasca Sarjana Unesa, University Press

Joyce, Bruce & Marsha Weil (1986).Models of Teaching, New Yersey : Prentice-Hall, Inc. Englewood Cliffs.

Lily Budiardjo (2001).Hakekat Metode Instruksional, Jakarta : Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional, Dirjen Dikti, Depdiknas

Nurhadi, Burhan Yasin dan Agus Gerald Senduk (2004).Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK, Malang : Universitas Negeri Malang

Tim Pustaka Yustisia (2007).Panduan Lengkap KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Yogyakarta : Pustaka Yustisia

Udin S. Winataputra (2001).Model-model Pembelajaran Inovatif, Jakarta : Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan Pengembangan Aktivitas Instruksional, Dirjen Dikti, Depdiknas






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar