"Anda boleh marah dengan keadaan anda yang buruk tapi jangan sampai merusak tubuh karena anda akan sangat menyesal ketika keadaan anda membaik" "Hidup ini berputar bagai roda, ada saatnya anda tersenyum dan ada saatnya anda mengkerutkan dahi, cobalah untuk mendapatkan pelajaran berharga di setiap kondisi anda" "Tersenyumlah di setiap pertemuan karena senyum mengikat batin yang memandangnya" "Minta maaflah ketika anda salah agar tali silaturahmi tetap terjalin baik" "Cobalah untuk berdo'a ketika anda dalam kesulitan karena do'a menghubungkan anda dengan sang pencipta agar anda selalu dalam lindungan dan pertolongannya" "Marahlah semarah marahnya tapi anda harus tahu orang di hadapan anda juga punya perasaan"You are very concerned with your life, welcome to the blog circumference of human energy, the material on this blog may be beneficial to your life. "you may be angry with your bad situation but not to damage the body because you will be very sorry when the state you better "" Life is like a spinning wheel, there are times when you smile and there are times when you constrict the forehead, try to get a valuable lesson in every condition you "" Smile at each meeting for the inner tie smile looking at her "" Apologize when you're wrong order ties remain intertwined good "" Try to pray when you are in trouble because of prayer connects you with the creator so that you are always in the shadow and his help "" Be angry angry angry but you have to know the person in front of you also have a feeling "

Senin, 07 April 2014

TOKOH-TOKOH TASAWUF

Sesugguhnya banyak sekali para Ulama’ yang mengikuti jejak Rosulullah SAW, untuk hidup seadanya dan tidak tamak, tapi kami disini akan membahas siapa saja yangterkenal sebagai pakar ilmu tasawuf :

Tokoh-tokoh ilmu tasawuf yang tersohor pada zaman dahulu adalah :


  1. Ibn Athaillah as Sakandary
Nama lengkapnya Ahmad ibn Muhammad Ibn Athaillah as Sakandary (w. 1350M), dikenal seorang Sufi sekaligus muhadits yang menjadi faqih dalam madzhab Maliki serta tokoh ketiga dalam tarikat al Syadzili. Penguasaannya akan hadits dan fiqih membuat ajaran-ajaran tasawufnya memiliki landasan nas dan akar syariat yang kuat. Karya-karyanya amat menyentuh dan diminati semua kalangan, diantaranya Al Hikam, kitab ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran spiritual di kalangan murid-murid tasawuf. Kitab lainnya, Miftah Falah Wa Wishbah Al Arwah (Kunci Kemenangan dan Cahaya Spiritual), isinya mengenai dzikir, Kitab al Tanwir Fi Ishqat al Tadhbir (Cahaya Pencerahan dan Petunjuk Diri Sendiri), yang disebut terakhir berisi tentang metode madzhab Syadzili dalam menerapkan nilai Sufi, dan ada lagi kitab tentang guru-guru pertama tarekat Syadziliyah - Kitab Lathaif Fi Manaqib Abil Abbas al Mursi wa Syaikhibi Abil Hasan.

  1. Al Muhasibi
Nama lengkapnya Abu Abdullah Haris Ibn Asad (w. 857). Lahir di Basrah. Nama "Al Muhasibi" mengandung pengertian "Orang yang telah menuangkan karya mengenai kesadarannya". Pada mulanya ia tokoh muktazilah dan membela ajaran rasionalisme muktazilah. Namun belakangan dia meninggalkannya dan beralih kepada dunia sufisme dimana dia memadukan antara filsafat dan teologi. Sebagai guru Al Junaed, Al Muhasibi adalah tokoh intelektual yang merupakan moyang dari Al Syadzili. Al Muhasibi menulis sebuah karya "Ri'ayah Li Huquq Allah", sebuah karya mengenai praktek kehidupan spiritual.

  1. Abdul Qadir Al Jilani (1077-1166)
Beliau adalah seorang Sufi yang sangat tekenal dalam agama Islam. Ia adalah pendiri tharikat Qadiriyyah, lahir di Desa Jilan, Persia, tetapi meninggal di Baghdad Irak.Abdul Qadir mulai menggunakan dakwah Islam setelah berusia 50 tahun. Dia mendirikan sebuah tharikat dengan namanya sendiri. Syeikh Abdul Qadir disebut-sebut sebagai Quthb (poros spiritual) pada zamannya, dan bahkan disebut sebagai Ghauts Al Azham (pemberi pertolongan terbesar), sebutan tersebut tidak bisa diragukan karena janjinya untuk memperkenalkan prinsip-prinsip spiritual yang penuh kegaiban. Buku karangannya yang paling populer adalah Futuh Al Ghayb (menyingkap kegaiban).
Melalui Abdul Qadir tumbuh gerakan sufi melalui bimbingan guru tharikat (mursyid). Jadi Qadiriyah adalah tharikat yang paling pertama berdiri.

  1. Al Hallaj
Nama lengkapnya Husayn Ibn Mansyur Al Hallaj (857-932), seorang Sufi Persia dilahirkan di Thus yang dituduh Musyrik oleh khalifah dan oleh para pakar Abbasiyah di Baghdad oleh karenanya dia dihukum mati. Al Hallaj pertama kali menjadi murid Tharikat Syeikh Sahl di Al Tutsari, kemudian berganti guru pada Syeikh Al Makki, kemudian mencoba bergabung menjadi murid Al Junaed Al Baghdadi, tetapi ditolak.
Al Hallaj terkenal karena ucapan ekstasisnya "Ana Al Haqq" artinya Akulah Yang Maha Mutlak, Akulah Yang Maha Nyata,bisa juga berarti "Akulah Tuhan", mengomentari masalah ini Al Junaid menjelaskan "melalui yang Haq engkau terwujud", ungkapan tersebut mengandung makna sebagai penghapusan antara manusia dengan Tuhan. Menurut Junaid " Al Abd yahqa al Abd al Rabb Yahqa al Rabb" artinya pada ujung perjalanan "manusia tetap sebagai manusia dan Tuhan tetap menjadi Tuhan".
 Pada jamannya Al Hallaj dianggap musrik, akan tetapi setelah kematiannya justru ada gerakan penghapusan bahkan Al Hallaj disebut sebagai martir atau syahid. Sampai sekarang Al Hallaj tetap menjadi teka-teki atau misteri karena masih pro dan kontra.

B.Tokoh-tokoh Tasawuf Moderat dan Ajarannya

Tasawuf Sunni (moderat) yaitu tasawuf yang benar-benar mengikuti Al-qur’an dan Sunnah, terikat, bersumber, tidak keluar dari batasan-batasan keduanya, mengontrol prilaku, lintasan hati serta pengetahuan dengan neraca keduanya. Sebagaimana ungkapan Abu Qosim Junaidi al-Bagdadi: “Mazhab kami ini (Tasawuf) terikat dengan dasar-dasar Al-qur’an dan Sunnah”, perkataannya lagi: “Barang siapa yang tidak hafal (memahami) Al-qur’an dan tidak menulis (memahami) Hadits maka orang itu tidak bisa dijadikan qudwah dalam perkara (tarbiyah tasawuf) ini, karena ilmu kita ini terikat dengan Al-Qur’an dan Sunnah.”. Tasawuf ini diperankan oleh kaum sufi yang mu’tadil (moderat) dalam pendapat-pendatnya, mereka mengikat antara tasawuf mereka dan Al-qur’an serta Sunnah dengan bentuk yang jelas. Boleh dinilai bahwa mereka adalah orang-orang yang senantiasa menimbang tasawuf mereka dengan neraca Syari’ah.
Tasawuf ini berawal dari zuhud, kemudian tasawuf dan berakhir pada akhlak. Mereka adalah sebagian sufi abad kedua, atau pertengahan abad kedua, dan setelahnya sampai abad keempat hijriyah. Dan personal seperti Hasan Al-Bashri, Imam Abu Hanifa, al-Junaidi al-Bagdadi, al-Qusyairi, as-Sarri as-Saqeti, al-Harowi, adalah merupakan tokoh-tokoh sufi utama abad ini yang berjalan sesuai dengan tasawuf sunni. Kemudian pada pertengahan abad kelima hijriyah imam Ghozali membentuknya ke dalam format atau konsep yang sempurna, kemudian diikuti oleh pembesar syekh Toriqoh. Akhirnya menjadi salah satu metode tarbiyah ruhiyah Ahli Sunnah wal jamaah. Dan tasawuf tersebut menjadi sebuah ilmu yang menimpali kaidah-kaidah praktis.
Tasawuf ini juga dinamakan tasawuf nazhori (teori), demikian, karena tasawuf Islam terbagi kepada nazhari dan amali (praktek). Dan hal ini tidak berarti bahwa tasawuf nazhori ini kosong dari sisi praktis. Istilah teori ini hanya melambangkan bahwa tasawuf belum menjadi bentuk thoreqoh (tarbiyah kolekltif) secara terorganisir seperti toreqoh yang terjadi sekarang ini.

1.     A. Junaid Al-Baghdadi

Nama lengkapnya adalah Abu al-Qasim al-Junaid bin Muhammad al-Kazzaz al-nihawandi. Dia adalah seorang putera pedagang barang pecah belah dan keponakan Surri al-Saqti serta teman akrab dari Haris al-Muhasibi. Dia meninggal di Baghdad pada tahun 297/910 M. dia termasuk tukoh sufi yang luar biasa, yang teguh dalam menjalankan syari`at agama, sangat mendalam jiwa kesufiannya. Dia adalah seorang yang sangat faqih, sering memberi fatwa sesuia apa yang dianutnya, madzhab abu sauri: serta teman akrab imam Syafi`i.
Dikatakan bahwa para sufi pada masanya, al-junaid adalah seorang sufi yang mempunyai wawasan luas terhadap ajaran tasawuf, mampu membahas secara mendalam, khusus tentang paham tauhid dan fana`. Karena itulah dia digelari Imam Kuam Sufi (Syaikh al-Ta`ifah); sementara al-Qusayiri di dalam kitabnya al-Risaalah al-Qusyairiyyah menyebutnya Tokoh dan Imam kaum Sufi. Asal-usul al-Junaid berasal dari Nihawan. Tetapi dia lahir dan tumbuh dewasa di Irak. Tentang riwayat dan pendidikannya, al-junaid pernah berguru pada pamannya Surri al-Saqti serta pada Haris bin `Asad al-muhasibi.
Kemampuan al-Junaid untuk menyapaikan ajaran agama kepada umat diakui oleh pamannya, sekaligus gurunya, Surri al-Saqti. Hal ini terbukti pada kepercayaan gurunya dalam memberikan amanat kepadanya untuk dapat tampil dimuka umum.
Al-Junaid dikenal dalam sejarah atsawuf sebagai seorang sufi yang banyak membahas tentang tauhid. Pendapat-pendapatnya dalam masalah ini banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab biografi para sufi, antara lain sebagaimana diriwayatkan oleh al-qusyairi: “oang-orang yang mengesakan Allah adalah mereka yang merealisasikan keesaan-Nya dalam arti sempurna, meyakini bahwa Dia adalah Yang Maha Esa, dia tidak beranak dan diperanakkan.
Di sini memberikan pengertian tauhid yang hakiki. Menurutnya adalah buah dari fana` terhadap semua yang selain Allah. Dalam hal ini dia menegaskan
Al-Junaid juga menandaskan bahwa tasawuf berarti “allah akan menyebabkan mati dari dirimu sendiri dan hidup di dalam-Nya.” Peniadaan diri ini oleh Junaid disebut fana`, sebuah istilah yang mengingatkan kepada ungkapan Qur`ani “segala sesuatu akan binasa kecuali wajah-Nya (QA. 55:26-27); dan hidup dan hidup dalam sebutannya baqa`. Al-Junaid menganggap bahwa tasawuf merupakan penyucian dan perjuangan kejiwaan yang tidak ada habis-habisnya.
 Disamping al-Junaid menguraikan paham tauhid dengan karakteristik para sufi, dia juga mengemukakan ajaran-ajaran tasawuf lainnya.

2.     B. Al-Qusyairi An-Naisabury

Dialah Imam Al-Qusyary an-Naisabury, tokoh sufi yang hidup pada abad kelima hijriah. Tepatnya pada masa pemerintahan Bani Saljuk. Nama lengkapnya adalah Abdul Karim al-Qusyairy, nasabnya Abdul Karim ibn Hawazin ibn Abdul Malik ibn Thalhah ibn Muhammad. Ia lahir di Astawa pada Bulan Rabiul Awal tahun 376 H atau 986 M.
Sedikit sekali informasi penulis dapat yang menerangkan tentang masa kecilnya. Namun yang jelas, dia lahir sebagai yatim. Bapaknya meninggal dunia saat usianya masih kecil. Sepeninggal bapaknya, tanggungjawab pendidikan diserahkan pada Abu al-Qosim al-Yamany. Ketika beranjak dewasa, Al-Qusyairy melangkahkan kaki meninggalkan tanah kelahiran menuju Naisabur, yang saat itu menjadi Ibukota Khurasan. Pada awalnya, kepergiannya ke Naisabur untuk mempelajari matematika. Hal ini dilakukan karena Al-Qusyairy merasa terpanggil menyaksikan penderitaan masyarakatnya, yang dibebani biaya pajak tinggi oleh penguasa saat itu. Dengan mempelajari matematika, ia berharap, dapat menjadi petugas penarik pajak dan meringankan kesulitan masyarakat saat itu.
Naisabur merupakan kota yang menyimpan peluang besar untuk perkembangan berbagai macam disiplin ilmu, karena banyak kaum intelektual yang hidup disana. Di kota inilah, untuk pertama kalinya Al-Qusyairy bertemu bertemu Sheikh Abu ‘Ali Hasan ibn ‘Ali an-Naisabury, yang lebih dikenal dengan panggilan Ad-Daqqaq. Pertemuan itu menyisakan kekaguman Al-Qusyairy pada peryataan-pernyataan Ad-Daqqaq. Perlahan, keinginannya mempelajari matermatika pun hilang. Ia pun memilih jalan tarekat dengan belajar dari Ad-Daqqaq. Berawal dari sinilah, Al-Qusyairy mengenal Tasawuf. Al-Daqqaq merupakan guru pertama Al-Qusyairy dalam bidang Tasawuf. Dari ia pula Al-Qusyairy mempelajari banyak hal, tidak hanya terbatas Tasawuf, tetapi juga ilmu-ilmu keislaman yang lain. Al-Qusyairy mampu memahami dengan baik semua pengetahuan yang diajarkan gurunya. Dari sinilah Ad-Daqqaq menyadari kemampuan intelektual Al-Qusyairy. Mungkin, hal ini menjadi salah satu faktor yang mendorong inisiatif Ad-Daqqaq untuk menikahkan putrinya, Fatimah dengan Al-Qusyairy.
Pernikahan ini berlangsung pada antara tahun 405 – 412 H/1014 – 1021 M. Fatimah merupakan wanita ahli sastra dan tekun beribadah. Dari pernikahan ini, lahirlah enam putera dan satu puteri, yaitu; Abu Said Abdullah, Abu Said Abdul Wahid, Abu Mansyur Abdurrahman, Abu Nashr Abdurrahim, Abu Fath Ubaidillah, Abu Muzaffar Abdul Mun’im dan putri Amatul Karim. Disamping berguru pada mertuanya, Imam Al-Qusyairy juga berguru pada para ulama lain. Diantaranya, Abu Abdurrahman Muhammad ibn al-Husain (325-412 H/936-1021 M), seorang sufi, penulis dan sejarawan. Al-Qusyairy juga belajar fiqh pada Abu Bakr Muhammad ibn Abu Bakr at-Thusy (385-460 H/995-1067 M, belajar Ilmu Kalam dari Abu Bakr Muhammad ibn al-Husain, seorang ulama ahli Ushul Fiqh. Ia juga belajar Ushuluddin pada Abu Ishaq Ibrahim ibn Muhammad, ulama ahli Fiqh dan Ushul Fiqh. Al-Qusyairy pun belajar Fiqh pada Abu Abbas ibn Syuraih, serta mempelajari Fiqh Mazhab Syafi’i pada Abu Mansyur Abdul Qohir ibn Muhammad al-Ashfarayain.
Al-Qusyairy banyak menelaah karya-karya al-Baqillani, dari sini ia menguasai doktrin Ahlusunnah wal Jama’ah yang dikembangkan Abu Hasan al-Asy’ary (w.935 M) dan para pengikutnya. Karena itu tidak mengherankan, kalau Kitab Risalatul Qusyairiyah yang merupakan karya monumentalnya dalam bidang Tasawuf -dan sering disebut sebagai salah satu referensi utama Tasawuf yang bercorak Sunni-, Al-Qusyairy cenderung mengembalikan Tasawuf ke dalam landasan Ahlusunnah Wal Jama’ah. Dia juga penentang keras doktrin-doktri aliran Mu’tazilah, Karamiyah, Mujassamah dan Syi’ah. Karena tindakannya itu, Al-Qusyairy pernah mendekam dalam penjara selama sebulan lebih, atas perintah Taghrul Bek, karena hasutan seorang menteri yang beraliran Mu’tazilah yaitu Abu Nasr Muhammad ibn Mansyur al-Kunduri Perburuan terhadap para pemuka aliran Asy’ariyah itu berhenti dengan wafatnya Taghrul Bek pada tahun 1063 M. Penggantinya, Alp Arsalen (1063-1092 M), kemudian mengangkat Nizam al-Mulk sebagai pengganti al-Khunduri. Kritik Terhadap Para Sufi Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Guru Besar Filsafat Islam dan Tasawuf pada Universitas Kairo, yang juga tokoh dan Ketua Perhimpunan Sufi Mesir (Robithah al-Shufihiyah al-Mishriyah) menulis, Imam Al-Qusyairy mengkritik para sufi aliran Syathahi yang mengungkapkan ungkapan-ungkapan penuh kesan tentang terjadinya Hulul (penyatuan) antara sifat-sifat kemanusiaan, khususnya sifat-sifat barunya, dengan Tuhan. Al-Qusyairy juga mengkritik kebiasaan para sufi pada masanya yang selalu mengenakan pakaian layaknya orang miskin. Ia menekankan kesehatan batin dengan perpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Hal ini lebih disukainya daripada penampilan lahiriah yang memberi kesan zuhud, tapi hatinya tidak demikian. (lihat, Dr. Abu al-Wafa’ al-Ghanimi al-Taftazani, Madkhal ilaa al-Tasawwuf al-Islam, cetakan ke-IV. Terbitan Dar al-Tsaqofah li an-Nasyr wa al-Tauzi, Kairo,1983)
.
Dari sini dapat dipahami, Al-Qusyairy tidak mengharamkan kesenangan dunia, selama hal itu tidak memalingkan manusia dari mengingat Allah. Beliau tidak sependapat dengan para sufi yang mengharamkan sesuatu yang sebenarnya tidak diharamkan agama. Karena itu Al-Qusyairy menyatakan, penulisan karya monumentalnya Risalatul Qusyairiyah, termotinasi karena dirinya merasa sedih melihat persoalan yang menimpah dunia Tasawwuf. Namun dia tidak bermaksud menjelek-jelekkan seorang pun para sufi ketika itu. Penulisan Risalah hanya sekadar pengobat keluhan atas persoalan yang menimpa dunia Tasawuf kala itu Imam Al-Qusyairy merupakan ulama yang ahli dalam banyak disiplin ilmu yang berkembang pada masanya, hal ini terlihat dari karya-karya beliau, seperti yang tercantum pada pembukaan Kitabnya Risalatul Qusyairiyah.
Karya-karya itu adalah; Ahkaamu as-Syariah, kitab yang membahas masalah-masalah Fiqh, Adaabu as-Shufiyyah, tentang Tasawuf, al-Arbauuna fil Hadis, kitab ini berisi 40 buah hadis yang sanadnya tersambung dari gurunya Abi Ali Ad-Daqqaq ke Rasulullah. Karya lainnya adalah; Kitab Istifaadatul Muraadaats, Kitab Bulghatul Maqaashid fii al-Tasawwuf, Kitab at-Tahbir fii Tadzkir, Kitab Tartiibu as-Suluuki fii Tariqillahi Ta’ala yang merupakan kumpulan makalah beliau tentang Tasawwuf, Kitab At-Tauhidu an-Nabawi, Kitab At-Taisir fi ‘Ulumi at-Tafsir atau lebih dikenal dengan al-Tafsir al-Kabir. Ini merupakan buku pertama yang ia tulis, yang penyusunannya selesai pada tahun 410 H/1019 M. Menurut Tajuddin as-Syubkhi dan Jalaluddin as-Suyuthi, tafsir tersebut merupakan kitab tafsir terbaik dan terjelas
Menurut Syuja’al-Hazaly, Imam Al-Qusyairy menutup usia di Naisabur pada pagi Hari Ahad, tanggal 16 Rabiul Awal 465 H/ 1073 M, dalam usia 87 tahun. Dikisahkan bahwa beliau mempunyai seekor kuda yang telah mengabdi padanya selama selama 20 tahun. Pada saat Al-Qusyairy wafat, kuda itu sangat sedih dan tidak mau makan selama dua minggu, hingga akhirnya ikut mati. Setelah Al-Qusyairy wafat, tak ada seorang pun yang berani memasuki perpustakaan pribadinya selama beberapa tahun. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan bagi al-Imam Radiyallah Ta’ala ‘Anhu. Wallahu a’lam bi al-Showab.

3.     C. Al-Harawi

Nama lengkapnya adalah Abu isma`il `Abdullah bin Muhammad al-Ansari. Beliau lahir tahun 396 H. di Heart, kawasan khurasan. Seperti dikatakan Louis Massignon, dia adalah seorang faqih dari madzhab hambali; dan karya-karyanya di bidang tasawuf dipandang amat bermut. Sebagai tokoh sufi pada abad kelima Hijriyah, dia mendasarkan tasawufnya di atas doktrin Ahl al-Sunnah. Bahkan ada yang memandangnya sebagai pengasas gerakan pembaharuan dalam tasawuf dan penentang para sufi yang terkenal dengan ungkapan-ungkapan yang anah, seperti al-Bustami dan al-Hallaj.
Di antara karya-karya beliau tentang tasawuf adalah Manazil al-Sa`irin ila Rabb al-`Alamin. Dalam dalam karyanya yang ringkas ini, dia menguraikan tingkatan-tingkatan rohaniyah para sufi, di mana tingakatan para sufi tersebut, menurutnya, mempunyai awal dan akhir, seperti katanya; ”kebanyakan ulama kelompok ini sependapat bahwa tingkatan akhir tidak dipaandang benar kecuali dengan benarnya tingkatan awal, seperti halnya bangunan tidak bias tegak kecuali didasarkan pada fondasi. Benarnya tingkatan awal adalah dengan menegakkannya di atas keihklasan serta keikutannya terhadap al-Sunnah”.
Dalam kedudukannya sebagai seorangpenganut paham sunni, al-harawi melancarkan kritik terhadap para sufi yang terkenal dengan keanehan ucapan-ucapannya, sebagaimana katanya.
Dalam kaitannya dengan masalah ungkapan-ungkapan sufi yang aneh tersebut, al-Harwi berbicara tentang maqam ketenangan (sakinah). Maqam ketenangan timbul dari perasaan ridha yang aneh. Dia mengatakan: “peringkat ketiga (dari peringkat-peringkat ketenangan) adalah ketenagan yang timbul dari perasaan ridhaatas bagian yang diterimanya. Ketenangan tersebut bias mencegah ucapan aneh yang menyesatkan ; dan membuat orang yang mencapainya tegak pada batas tingkatannya. “yang dimaksud dengan ucapan dengan ucapan yang menyesatkan itu adalah seperti ungkapan-ungkapan yang diriwayatkan dari Abu yazid dan lain-lain. Berbeda dengan al-Jinaid, Sahl al-Tusturi dan lainnya; karena mereka ini memiliki ketenangan yang membuat mereka tidak mengucapkan ungkapan-ungkapan yang anah. Karena itu dapat dikatakan bahwa ungkapan-ungkapan yang aneh tersebut timbul dari ketidak tenangan, sebab, seandainya ketenangan itu telah bersemi di kalbu, maka hal itu akan membuatnya terhindar dari mengucapkan ungkapan-ungkapan yang menyesatkan tersebut.
Kemudian yang dimaksud dengan batas tingkatan adalah tegaknya seorang sufi pada batas tingkatan kedudukannya sebagai seorang hamba. Tegasnya, di sekali-kali tidak melewati tingkatan kedudukannya sebagai seorang hamba. Ketenangan tersebut, menurut al-harawi, tidak di turunkan kecuali pada kalbu seorang nabi atau wali.

Rabu, 12 Februari 2014

Kecerdasan Emosi

KECERDASAN EMOSI: SATU PENGENALAN45

Oleh : Azromihana binti Azmi (azromihana@yahoo.com)

Pengenalan

Perasaan dan emosi seperti tangisan, sedih, takut dan gelak ketawa mencorakkan warna kehidupan, membentuk sikap dan personaliti serta menggerakkan arah kehidupan seseorang manusia. Perkataan emosi ini berasal daripada perkataan Greek “emovere” yang membawa maksud “untuk keluar”. Maka untuk itu, emosi akan ditonjolkan keluar sebagai satu bentuk bagi memenuhi kepuasan seseorang.
Emosi boleh ditakrifkan sebagai satu keadaan yang dialami oleh seseorang manusia yang melibatkan beberapa perubahan proses fisiologi, diri dan psikologi46. Perubahan ini melibatkan satu set tindak balas automatik, viseral iaitu meluap-luap dan komunikasi emosi seperti ekspresi muka, perkataan, isyarat dan tingkah laku lain yang dipaparkan oleh seseorang itu. Manusia yang normal dilihat sebagai individu manusia yang mengalami situasi yang pelbagai dan berkehendakkan reaksi bagi melahirkan emosi yang juga berbeza.
Kecerdasan intelektual (IQ) lazimnya membolehkan seseorang belajar di universiti atau pun memegang jawatan profesional. Bagaimanapun, ia bukanlah satu jaminan yang seseorang manusia yang memiliki IQ yang tinggi akan sejahtera dalam hidup.

Kecerdasan intelektual (IQ) membolehkan seseorang untuk belajar di universiti dan kolej atau pun memegang jawatan profesional. Bagaimanapun, ia bukanlah satu jaminan yang seseorang manusia yang bijak dan pandai akan sejahtera dalam hidup. Kemahiran mengawal dan menggunakan emosi (EQ) secara bijak sebenarnya memainkan peranan yang penting dalam menjamin kesejahteraan hidup seseorang.
Sejak Goleman47 menerbitkan bukunya yang berjudul “The Emotional Intelligence”, ramai pengkaji mula menunjukkan minat terhadap penyelidikan di bidang yang baru ini. Para pengkaji cuba memahami bagaimana kecerdasan emosi dapat bergabung tenaga dengan kecerdasan akal bagi menentukan kejayaan dan keharmonian sesebuah kehidupan manusia.
Selama ini, ramai yang menganggap bahawa jika seseorang individu itu memiliki tingkat kecerdasan intelektual yang tinggi, maka individu itu akan memiliki peluang untuk meraih kejayaan yang lebih baik berbanding dengan yang lain. Bagaimanapun, terdapat banyak kes di mana seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual yang tinggi tersisih daripada orang yang memiliki tingkat kecerdasan intelektual yang lebih rendah. Ini membuktikan bahawa kecerdasan intelektual yang tinggi tidak menjamin seseorang itu akan meraih kejayaan dalam hidupnya.
Sebaliknya, kecerdasan emosi didapati dapat mengurangkan jurang penyisihan ini. Kecerdasan emosi boleh dikembangkan seumur hidup melalui proses pembelajaran. Kecerdasan emosi lahir seiring dengan pertumbuhan seseorang individu sejak lahir sehinggalah beliau meninggal dunia. Pertumbuhan kecerdasan emosi dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan persekitaran dan contoh-contoh pengalaman yang diperolehi seseorang sejak lahir dari kedua ibu bapanya. Kecerdasan emosi mempunyai kaitan dengan pelbagai aspek yang dirasakan semakin sukar dilihat dalam kehidupan manusia yang semakin moden dan maju kini 48. Antara aspek kecerdasan emosi yang semakin sukar dilihat dalam kehidupan manusia kini adalah seperti berikut:-
  • Empati iaitu memahami orang lain secara mendalam
  • Mengungkapkan dan memahami perasaan
  • Mengendalikan amarah
  • Kemandirian iaitu berdiri dengan sendiri atau berdikari
  • Kemampuan untuk menyesuaikan diri
  • Disukai oleh orang lain
  • Kemampuan untuk memecahkan atau menghilangkan masalah antara mereka yang berada di sekeliling
  • Semangat setiakawan
  • Keramahan
  • Sikap hormat-menghormati
Kecerdasan emosi bermula sejak kecil dan dengan itu, ibu bapa memiliki peranan terpenting dalam membina kecerdasan emosi anak-anak.

Kecerdasan emosi bermula sejak kecil dan dengan itu, ibu bapa memiliki peranan terpenting dalam membina kecerdasan emosi anak-anak. Mereka harus mengajar, mendidik serta membimbing anak-anak tentang kecerdasan emosi dengan memberikan contoh teladan yang baik. Bagi membolehkan anak-anak memiliki kecerdasan emosi yang tinggi49, ibu bapa seharusnya mengajar dan menerapkan dalam diri anak-anak beberapa aspek seperti berikut:-
  • Membina hubungan persahabatan yang baik dan harmonis
  • Bekerja dalam kumpulan secara harmonis
  • Berbicara dan mendengarkan secara efektif
  • Mencapai prestasi yang lebih tinggi sesuai dengan aturan yang ada (jujur)
  • Mengatasi masalah dengan teman yang nakal
  • Berempati antara satu sama lain
  • Kemampuan untuk memecahkan atau menghilangkan masalah antara peribadi ketekunan
  • Mengatasi konflik
  • Membangkitkan rasa humor atau jenaka
  • Memotivasikan diri apabila menghadapi saat-saat yang sulit dan genting
  • Menghadapi situasi yang sulit dengan percaya kepada diri sendiri
  • Menjalin keakraban
Jika dilihat di dalam konteks pendidikan di Malaysia, penyelidikan dan kajian tentang kecerdasan emosi masih kurang dilakukan. Pembelajaran sosial dan emosi dalam kurikulum di sekolah-sekolah Malaysia dilaksanakan secara tidak langsung dan ia tidak dijadikan sebagai satu subjek atau perkara yang khas (Pusat Perkembangan Kurikulum Kementerian Pendidikan Malaysia 1983).
Pada kebiasaannya, beberapa andaian wujud di mana kemahiran-kemahiran sedemikian diperoleh oleh para pelajar melalui kurikulum terselindung yang disampaikan oleh guru-guru secara tidak langsung. Namun, terdapat beberapa mata pelajaran seperti Pendidikan Islam dan Pendidikan Moral yang dijadikan subjek utama bagi memenuhi perkembangan yang berkesan pelajar-pelajar di Malaysia.
Masyarakat Malaysia terdiri daripada pelbagai kaum dan etnik yang hidup dalam suasana yang aman dan harmoni. Untuk menjamin kesejahteraan dan keharmonian ini akan sentiasa berterusan, faktor emosi perlulah dikawal dan dijaga sentiasa. Kecerdasan emosi pelbagai etnik hendaklah sentiasa diberi penekanan dan dikawal dari kecil lagi. Begitu juga perbezaan antara gender iaitu lelaki dan perempuan.
Menurut Patricks dan Furnham50, pelajar perempuan mempunyai pencapaian kecerdasan emosi yang tinggi jika dibandingkan dengan pelajar lelaki dalam kemahiran sosial. Namun, ia berbeza dengan pertimbangan jangkaan diri atau self-estimated di mana pelajar lelaki memiliki pencapaian kecerdasan emosi yang lebih tinggi berbanding pelajar perempuan.
Walau bagaimanapun, hasil kajian ini berbeza dengan yang diperoleh daripada Kyung Hee51. Pelajar perempuan mempunyai pencapaian kecerdasan emosi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pelajar lelaki dalam tiga faktor kecerdasan emosi iaitu empati, penggunaan emosi dan perhubungan sesama rakan sebaya.
Menurut Curtis52 pula, apabila emosi diajar dan ditekankan dengan pembelajaran yang berkaitan dengan kecerdasan emosi melalui kaedah rawatan, perubahan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya berlaku dalam diri pelajar-pelajar. Perubahan berlaku walaupun pelajar-pelajar berada di dalam tiga kelas yang berbeza iaitu kelas Pengajian Sosial/English Moden, kelas Psikologi dan kelas sukarelawan pelajar pintar. Menurut Curtis lagi, kelas bimbingan diadakan dan hasilnya wujud peningkatan dalam pengurusan emosi.

Ciri-Ciri Yang Membentuk Kecerdasan Emosi

Salovey dan Mayer53 mengatakan bahawa kecerdasan emosi mengumpulkan kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal Gardner yang boleh dikategorikan kepada lima perkara iaitu kesedaran diri, pengurusan emosi, motivasi diri, empati dan mengendalikan hubungan.
Kesedaran diri merupakan satu pemerhatian terhadap diri dan mengakui suatu perasaan sebagai satu kejadian. Pengurusan emosi pula merupakan satu pengendalian perasaan di mana ia boleh disesuaikan, menyedari sesuatu perkara di sebalik emosi, menemui cara mengendalikan perasaan bimbang dan takut, perasaan marah dan juga sedih.
Motivasi diri pula merupakan satu penyaluran perasaan ke arah satu matlamat, mengawal emosi kendiri, melewatkan ganjaran dan menyekat dorongan. Empati pula merupakan satu perasaan atau kemampuan untuk menyelami dan memahami perasaan atau emosi orang lain. Sementara mengendalikan hubungan pula adalah satu pengurusan perasaan, kecekapan dan kemahiran sosial.
Menurut Mayer dan Salovey54 pula, kecerdasan emosi adalah sejenis kecerdasan sosial yang melibatkan kebolehan untuk mengawasi diri sendiri dan juga orang lain serta boleh membezakan diri dengan orang lain. Ia juga menggunakan maklumat untuk membimbing ke arah satu pemikiran dan juga tindakan.
Menurut Young55, istilah kecerdasan emosi didefinisikan sebagai kecerdasan sosial yang melibatkan kemahiran untuk memantau dan membuat diskriminasi di antara emosi sendiri dan emosi orang lain, di samping memanfaatkan maklumat ini sebagai panduan pemikiran dan tindakan seseorang itu.
Menurut Goleman56 pula, kecerdasan emosi secara spesifiknya, terdiri daripada empat konstruk penting. Konstruk-konstruk itu adalah kawalan diri, motivasi/kesedaran diri, pengurusan emosi dan kemahiran sosial. Konstruk yang pertama adalah kawalan diri. Ia merujuk kepada kemahiran mengawal tindakan dan perasaan sebelum melakukan sesuatu perkara.
Individu yang memiliki tahap kecerdasan emosi yang tinggi adalah seorang individu yang boleh mengawal perasaan dan tindakan sendiri, mempunyai daya ketahanan untuk mencapai matlamat hidup, boleh mengurus perasaan negatif serta mudah menjalinkan persahabatan dengan orang lain.

Konstruk yang kedua pula adalah motivasi/kesedaran diri. Ia merujuk kepada usaha dan daya ketahanan seseorang untuk mencapai matlamat hidup. Konstruk yang seterusnya adalah pengurusan emosi. Pengurusan emosi merujuk kepada kemahiran menguruskan perasaan dan pembentukan konsep atau menyanjung diri. Konstruk yang terakhir adalah kemahiran sosial. Ia merujuk kepada kemahiran menjalinkan perhubungan atau persahabatan dengan orang lain seperti kemahiran komunikasi dan kemahiran berunding.
Individu yang memiliki tahap kecerdasan emosi yang tinggi adalah seorang individu yang boleh mengawal perasaan dan tindakan sendiri, mempunyai daya ketahanan untuk mencapai matlamat hidup, boleh mengurus perasaan negatif serta mudah menjalinkan persahabatan dengan orang lain.
Sementara individu yang memiliki tahap kecerdasan emosi yang rendah pula akan bertindak mengikut perasaan tanpa memikirkan akibatnya dan mempunyai matlamat hidup yang kurang jelas. Selain itu juga, individu tersebut kurang mahir mengurus perasaan negatif serta kurang mahir dalam menjalinkan persahabatan dengan orang lain.
Secara keseluruhannya, kecerdasan emosi menekankan tentang ciri sahsiah yang dimiliki oleh seseorang individu itu. Kemahiran sosial dan emosi adalah lebih penting dalam kejayaan hidup daripada kebolehan intelektual semata-mata.
Bagaimanapun, setakat ini tidak ada ujian yang tepat bagi mengukur kecerdasan emosi seperti yang dilaksanakan untuk menguji dan mengukur kecerdasan intelektual. Menurut Elaine de Beauport57, terdapat tiga belas darjah kecerdasan. Tiga belas darjah kecerdasan ini dirangkumkan kepada tiga teori susunan otak (the tribune brain theory) iaitu neokorteks, sistem limbik dan reptilian kompleks yang mempunyai darjah kecerdasan yang berbeza di antara satu sama lain.
Darjah kecerdasan mengikut susunan otak neokorteks terdiri daripada empat bahagian. Bahagian yang pertama, rasional yang merupakan kebolehan untuk melihat sebab dan akibat, proses urutan deduksi, proses membuat rumusan dan kesimpulan. Bahagian kedua adalah hubungan dan pertalian. Ia merupakan satu kebolehan melihat secara rambang, meluaskan maklumat melalui pertalian rambang secara keseluruhan dan melihat hubungan antara maklumat dan bahan. Bahagian ketiga pula, visual atau imaginal yang merupakan satu kebolehan untuk melihat secara bayangan dan penggambaran. Sementara bahagian keempat adalah intituisional yang merupakan satu kebolehan untuk mengetahui dari pengalaman secara langsung dengan tidak menggunakan sebab.
Bagi darjah kecerdasan dari susunan otak limbik pula, ia terbahagi kepada enam bahagian. Bahagian pertama adalah afeksi. Ia merupakan kebolehan seseorang individu menghayati dan mengembangkan perasaan kejiranan dengan seseorang individu, tempat, benda mahupun idea.
Bahagian kedua pula adalah motivasi. Ia merupakan satu kebolehan yang menghampiri kemahuan atau kehendak seseorang individu dan mengetahui apa yang perlu dihampiri dan apa yang mahu diusahakan atau digerakkan untuk bertindak terhadap sesuatu perkara.
Bahagian seterusnya adalah rasa hati. Ia merupakan satu kebolehan mencipta pelbagai suasana hati dan menukarkannya kepada suasana yang lain seperti suka-duka, cinta-benci, marah-sayang dan sebagainya. Bahagian keempat adalah mulut. Ia merupakan satu kebolehan menyedari dan memandu getaran yang berkaitan dengan kawasan oral iaitu kawasan mulut.
Bahagian kelima pula adalah rongga hidung yang merupakan satu kebolehan menyedari dan memandu getaran yang berkaitan dengan kawasan nasal iaitu kawasan hidung. Bahagian terakhir adalah dorongan keseksualan. Dorongan keseksualan merupakan satu kebolehan menyedari untuk menerima dan menunjukkan getaran yang boleh melahirkan tarikan.
Bagi darjah kecerdasan dari susunan otak reptillia kompleks pula, ia terdiri daripada tiga bahagian iaitu bahagian yang pertama, asas. Bahagian ini merupakan satu kebolehan untuk melawan dan melari, meniru dan menghalang idea yang beralinan dan bertindak. Bahagian kedua pula adalah Rutin. Rutin adalah satu kebolehan mengenal, mencipta dan mengekalkan ulangan-ulangan irama (rhythm). Dan bahagian terakhir yang ada dalam susunan otak reptillia kompleks ini adalah kelaziman. Kelaziman merupakan satu kebolehan mengenal, mencipta dan mengekalkan irama yang ditimbulkan oleh seni, muzik, drama, pemikiran dan tindakan.
Apa yang telah dirumuskan semenjak tahun 1983 oleh Pengarah Penyelidikan Kognitif Universiti Harvard, Dr Howard Gardner58, terdapat tujuh jenis darjah kecerdasan. Darjah kecerdasan yang pertama adalah darjah kecerdasan linguistik. Ia merupakan satu kebolehan menggunakan bahasa, makna perkataan dan hubungan antara perkataan atau dengan kata lainnya ia merupakan satu kebolehan mempelajari pelbagai bahasa.
Darjah kecerdasan yang kedua pula adalah darjah kecerdasan spatial yang merupakan satu kebolehan mencipta benda di alam ini dan kemudiannya melahirkan semula gambaran tersebut di dalam minda.
Darjah kecerdasan yang seterusnya adalah darjah kecerdasan muzik atau irama. Darjah kecerdasan muzik atau irama ini merupakan satu kebolehan mengenalpasti irama, intonasi dan seni suara.
Darjah kecerdasan yang keempat adalah darjah kecerdasan kinestetik. Darjah kecerdasan kinestetik adalah satu kebolehan menggunakan fizikal badan dan kemudiannya mencipta semula perlakuan perasaan fizikal.
Darjah kecerdasan yang kelima pula adalah darjah kecerdasan logik matematik. Darjah kecerdasan logik-matematik adalah satu kebolehan melakukan penakulan atau mencari sebab-musabab sesuatu perkara.
Darjah kecerdasan yang keenam adalah darjah kecerdasan interpersonal. Darjah kecerdasan interpersonal merupakan satu kebolehan seseorang individu itu berinteraksi, memahami kemahuan, motivasi, perasaan, fikiran dan perlakuan seseorang yang lain.
Darjah kecerdasan yang terakhir adalah darjah kecerdasan intrapersonal. Darjah kecerdasan intrapersonal ini merupakan satu kebolehan seseorang individu itu memahami kemahuan, matlamat dan perasaan diri sendiri.
Daripada kajian yang telah dijalankan oleh Beauport dan Gardner inilah ciri-ciri penting dalam kecerdasan emosi di mana darjah kecerdasan dalam otak limbik yang disarankan oleh Beauport serta darjah kecerdasan interpersonal dan intrapersonal yang dikenalpasti oleh Gardner digabungkan.

Kajian Lepas

Secara umumnya, kajian-kajian tentang kecerdasan emosi banyak dijalankan di negara-negara Barat. Di Malaysia, kajian kecerdasan emosi masih kurang dijalankan.
Meyer, Caruso dan Salovey59 juga telah membina satu alat ujian kecerdasan emosi yang dikenali sebagai “Multifactor Emotional Intelligence Scale (MEIS)”. Alat ujian ini mengandungi 12 alat yang telah diklasifikasikan kepada empat kumpulan iaitu persepsi, asimilasi, persefahaman dan pengurusan emosi. Untuk menguji kesahan alat ujian ini, mereka telah membuat kajian terhadap 503 orang dewasa dan 229 orang remaja.
Daripada kajian yang telah dijalankan, didapati terdapat tiga faktor penting dalam analisis MEIS ini iaitu terdapat hubungan yang tinggi dalam persepsi, persefahaman dan pengurusan emosi serta faktor umum seperti empati, pengendalian hubungan, motivasi diri, kesedaran kendiri dan pengurusan emosi di dalam kecerdasan emosi.
Hasil kajian mendapati bahawa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor umum kecerdasan emosi dengan ukuran verbal kecerdasan emosi serta ukuran self-reported empathy. Kajian ini mendapati wujudnya hubungan yang tinggi di antara persefahaman dengan kecerdasan verbal diikuti dengan pengurusan emosi dan persepsi. Kajian ini juga mendapati bahawa kecerdasan emosi orang dewasa adalah lebih tinggi daripada remaja.
Schutte dan rakan-rakan60 telah membina satu alat ujian sendiri tentang kecerdasan emosi. Alat ujian yang dibina ini adalah berasaskan kepada alat ujian yang dibina oleh Salovey dan Meyer. Alat ini mengandungi 33 item self-reported yang mengukur hubungan yang penting dalam lapan teoritikal konstruk termasuklah kesedaran emosi, pandangan tentang kehidupan, tekanan perasaan, keupayaan untuk mengatur emosi dan sebagainya.
Kurikulum sekolah yang berfokuskan pembela-jaran sosial dan emosi juga memainkan peranan yang amat penting dalam pembentukan kecerdasan emosi.

Namun begitu, kajian dalam domain kecerdasan emosi ini sebenarnya masih kurang. Akan tetapi, terdapat beberapa kajian lain yang berkaitan dengan emosi seperti kajian yang dijalankan oleh Hawkins dan rakan-rakan61 menunjukkan bahawa kurikulum sekolah yang berfokuskan pembelajaran sosial dan emosi juga memainkan peranan yang amat penting dalam pembentukan kecerdasan emosi.
Seterusnya, Salovey dan Meyer62 telah membuat kajian secara berperingkat-peringkat terhadap subjek yang terdiri daripada responden terikat dan responden bebas. Secara keseluruhannya, kajian ini telah memperkenalkan satu teori yang mengaitkan kecerdasan emosi dengan faktor personaliti seperti personaliti mesra dan aktif.
Kajian terakhir yang boleh dikaitkan dengan kecerdasan emosi adalah satu kajian yang dijalankan oleh Liew Phaik Guat Selina, Gan Teck Hock dan Sia Pong Won63 yang menjalankan kajian ke atas pelajar tahun 5 seramai 416 orang di kawasan Miri, Sarawak. Kajian ini mendapati bahawa terdapat perbezaan tahap kecerdasan emosi di antara pelajar lelaki dan perempuan.
Selain itu juga, kajian menunjukkan bahawa pelajar telah menunjukkan trend yang positif dalam komponen motivasi dan kesedaran diri. Dari segi pengurusan emosi pula, kebanyakan pelajar berada di tahap sederhana dan kurang memuaskan. Bagi komponen sosial pula menunjukkan bahawa sejumlah 41.6% terletak di bawah tahap kecerdasan emosi yang memuaskan. Manakala bagi komponen kawalan diri pula, pengkaji mendapati bahawa pelajar berada di tahap kecerdasan emosi yang memuaskan.
Menurut Brody dan Hall64, anak-anak perempuan membesar lebih cepat jika dibandingkan dengan anak-anak lelaki. Anak-anak perempuan dikatakan lebih cepat terdedah dengan pengalaman beremosi dan ia akan berjaya melahirkan emosi dan perasaan. Selain itu, anak-anak perempuan dididik dengan cara yang berbeza dengan anak-anak lelaki. Peluang yang banyak dalam memperincikan emosi diberikan kepada anak-anak perempuan dan tidak kepada anak-anak lelaki.
Kajian yang dijalankan oleh Liew Phaik Guat Selina, Gan Teck Hock dan Sia Pong Won65 ke atas pelajar tahun lima di kawasan Miri, Sarawak pula memperlihatkan bahawa kecerdasan emosi daripada komponen kawalan diri pelajar di tahap kecerdasan emosi yang memuaskan tetapi tidak dinyatakan perbezaan antara pelajar lelaki dan perempuan.
Kajian Kyung Hee66 pula memperlihatkan bahawa dalam tiga faktor kecerdasan emosi iaitu empati, penggunaan emosi dan saling berkaitan atau perlu memerlukan antara rakan sebaya, pelajar perempuan mempunyai skor kecerdasan emosi yang tinggi berbanding pelajar lelaki. Pelajar perempuan memperlihatkan kesedaran yang lebih tinggi tentang diri dan perasaan terhadap orang lain berbanding pelajar lelaki.
Schutte, Malouff, Hall, Haggerty, Cooper dan Golden67 pula telah menjalankan kajian ke atas 346 subjek lelaki dan perempuan dengan menggunakan alat ukuran kecerdasan emosi berdasarkan model yang dibina oleh Salovey dan Mayer. Namun, sekali lagi subjek perempuan dilihat memperolehi pencapaian kecerdasan emosi daripada komponen pengurusan emosi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan subjek lelaki.
Dalam kajian yang dijalankan oleh Patricks dan Furnham,68 pelajar perempuan dilihat mempunyai pencapaian kecerdasan emosi yang tinggi jika dibandingkan dengan pelajar lelaki dalam kemahiran sosial. Perkara ini boleh dikaitkan dengan keadaan di mana pelajar perempuan dilihat lebih cepat matang dan berupaya dalam menjalin hubungan sosial jika dibandingkan dengan pelajar lelaki yang lambat matang.
Menurut Curtis69, apabila emosi ditekankan atau diajar dengan pembelajaran yang berkaitan dengan kecerdasan emosi melalui kaedah rawatan, perubahan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya berlaku dalam diri pelajar-pelajar. Perubahan berlaku walaupun pelajar-pelajar berada di dalam tiga kelas yang berbeza iaitu kelas Pengajian Sosial/English Moden, kelas Psikologi dan kelas sukarelawan pelajar pintar. Menurut Curtis lagi, kelas bimbingan diadakan dan hasilnya wujud peningkatan dalam pengurusan emosi.
Jika dilihat pula dalam konteks negara Malaysia, pembelajaran sosial dan emosi dalam kurikulum di sekolah-sekolah dilaksanakan secara tidak langsung dan tidak dijadikan satu subjek yang khas70. Dalam masyarakat Malaysia, kejayaan seseorang pelajar biasanya diukur berpandukan bilangan gred A yang diperoleh dalam peperiksaan.
Dalam masyarakat Malaysia, kejayaan seseorang pelajar biasanya diukur berpandukan bilangan gred A yang diperoleh dalam peperiksaan. Kesan yang diperoleh adalah sistem persekolahan di Malaysia pernah dikatakan sebagai sistem yang terlalu menekankan peperiksaan serta bergantung kepada sijil-sijil peperiksaan awam.

Kesan yang diperoleh adalah sistem persekolahan di Malaysia pernah dikatakan sebagai sistem yang terlalu menekankan peperiksaan serta bergantung kepada sijil-sijil peperiksaan awam71. Oleh kerana Curtis mengkaji tahap kecerdasan emosi berdasarkan kelas, pembelajaran sosial dan emosi dalam kurikulum di sekolah-sekolah Malaysia dilaksanakan secara tidak langsung dan pergantungan kepada keputusan peperiksaan awam.

Kecerdasan Emosi: Kebakaan Atau Persekitaran

Kecerdasan emosi yang tinggi di kalangan remaja pelajar sebenarnya berkait rapat dengan kecerdasan intelektual mereka. Remaja pelajar yang tinggi kecerdasan emosinya, kebanyakannya memperlihatkan prestasi akademik yang tinggi dan memuaskan. Namun begitu, persoalan yang timbul dalam melihat tahap kecerdasan emosi remaja pelajar ini adalah apakah faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosi. Adakah ia berasal daripada faktor kebakaan atau berasal daripada faktor persekitaran.
Jika dilihat kepada faktor kebakaan, anak-anak yang mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dan memuaskan, berasal daripada baka atau dikaitkan dengan ibu bapa yang mempunyai kecerdasan emosi pada aras yang sama juga. Kecerdasan emosi yang ada pada individu remaja itu memang sedia ada dalam diri individu remaja itu sejak lahir lagi. Ibu bapa yang mempunyai tahap kecerdasan emosi yang baik akan melahirkan anak yang sedemikian juga.
Bagaimanapun, penulis berpendapat faktor persekitaran juga memainkan peranan penting dalam tahap kecerdasan emosi seseorang individu remaja. Apa sahaja yang berlaku di persekitaran, mampu mempengaruhi seseorang individu untuk bertindak mengikut keadaan yang berlaku di sekitarnya. Maka, dalam konteks ini, ibu bapa dan guru serta rakan sebaya memainkan peranan penting dalam memberi didikan dan membawa perubahan kecerdasan emosi diri remaja tersebut.
Kajian lepas menunjukkan bahawa sekurang-kurangnya bagi remaja lelaki, terdapat hubungan yang signifikan di antara takat perkembangan emosi dengan takat perkembangan emosi ibu bapa72. Ada juga kajian lain menunjukkan bahawa paras perkembangan emosi ibu mempengaruhi fungsi tahap emosinya sekurang-kurangnya satu tahap lebih tinggi.
Dalam masyarakat Malaysia, kejayaan seseorang pelajar biasanya diukur berpandukan bilangan gred A yang diperoleh dalam peperiksaan. Kesan yang diperoleh adalah sistem persekolahan di Malaysia pernah dikatakan sebagai sistem yang terlalu menekankan peperiksaan serta bergantung kepada sijil-sijil peperiksaan awam.

Oleh itu, modeling tahap emosi yang lebih tinggi boleh meninggikan perkembangan emosi anak. Menurut Parikh73 pula, ibubapa yang menggalakkan anak-anak mereka terlibat dengan perbincangan isu-isu secara terbuka dan demokratik boleh meninggikan perkembangan emosi. Begitu juga, ibubapa yang menggunakan teknik induktif dalam disiplin.
Konsep rumahku syurgaku dan sekolah penyayang amat penting dalam meningkatkan kecerdasan emosi anak-anak. “Melentur buluh hendaklah dari rebungnya” perlulah dijadikan pedoman oleh ibubapa dan para pendidik74. Semakin awal kemahiran kecerdasan emosi yang diberikan kepada anak-anak adalah semakin baik dan berkesan. Anak-anak yang diberikan kemahiran emosi akan kelihatan riang, lebih berkeyakinan dan lebih berjaya dan cemerlang di sekolah. Kecerdasan emosi yang diberikan latihan dan diamalkan boleh menjadi tabiat dan kebiasaan dalam kehidupan anak-anak.
Kehidupan dalam keluarga merupakan sekolah awal untuk mempelajari emosi. Perkara-perkara seperti bagaimana anak-anak itu merasa tentang diri mereka, bagaimana orang lain memberikan tindak balas terhadap tingkah laku mereka, bagaimana pula mereka memikirkan perasaan itu, apakah pilihan-pilihan yang perlu dibuat, bagaimana mengeluarkan perasaan yang mengharapkan sesuatu dan bagaimana menghindarkan diri dari rasa takut, tertekan dan sebagainya.
Terdapat beberapa gaya keibubapaan yang boleh mengganggu kecerdasan emosi anak-anak. Pertama, ibubapa yang tidak mempedulikan atau menghiraukan emosi anak-anak75. Ibu bapa yang sebegini beranggapan bahawa gangguan emosi anak-anak merupakan perkara biasa. Mereka tidak pernah menyediakan ruang masa mahupun peluang dalam membantu anak-anak mengatasi gangguan emosi tersebut.
Kedua, ibu bapa yang terlalu memberikan kebebasan kepada anak-anak tanpa sebarang kawalan. Ibu bapa yang sedemikian rupa akan membiarkan sahaja anak-anak mereka membuat sesuatu perkara tanpa had dan hala tujuan tertentu. Namun, apabila anak-anak mereka ini telah melampaui batas dan terlalu mengikut dorongan nafsu serta agresif, barulah ibu bapa tersebut mengambil tindakan yang agak keras.
Gaya keibubapaan yang boleh mengganggu kecerdasan emosi anak-anak yang terakhir adalah ibu bapa yang selalu merendah-rendah, memperkecil dan seterusnya menghina perasaan anak-anak. Ibu bapa seperti ini selalunya akan bertindak kasar dan keterlaluan dalam memberikan kritikan dan dendaan. Ibu bapa ini akan mendera anak-anaknya dengan cara yang agak kejam hingga menyebabkan anak-anak tertekan dan mengalami gangguan perasaan atau sakit jiwa.
Gaya keibubapaan yang diutarakan di atas bukan sahaja boleh merendahkan kecerdasan emosi tetapi juga boleh menyebabkan anak-anak mengalami masalah mental. Menurut Robert Post76, hasil kajian telah mendapati bahawa tekanan, deraan dan dadah boleh menimbulkan sel lembaga atau “gent” yang dipanggil “C-fos”. Lembaga C-fos ini akan mengempil kepada sel otak. Ia juga boleh menyebabkan berlakunya kerosakan sel sesaraf dan rangkaian otak. Ia juga boleh menyebabkan berlakunya“short-circuit” dalam rangkaian otak dan jiwa anak-anak akan tertekan yang boleh menyebabkan anak-anak mengalami masalah mental.
Terdapat juga ibu bapa yang bersikap sederhana, tidak terlalu berkeras dan tidak terlalu lembut serta sentiasa mencari peluang membimbing anak-anak memahami perasaan dan emosi. Ibu bapa seperti inilah mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dan bakal membina kecerdasan emosi yang tinggi di dalam anak-anak mereka juga.
Dalam mendidik anak-anak, mereka cuba memahami apa yang dirasakan oleh anak-anak mereka. Bantuan dengan cara yang positif bagi melegakan perasaan anak-anak yang beremosi. Memahami konsep penghargaan diri, motivasi diri, penglahiran hasrat diri dan keyakinan diri adalah bimbingan yang perlu dari ibu bapa terhadap anak-anak.
Selain itu, ibu bapa ini juga akan membimbing anak-anak untuk menguasai kemahiran yang spesifik seperti kemahiran sosial, kemahiran berfikir dan penyelesaian masalah, kemahiran interpersonal dan intrapersonal serta komunikasi berkesan. Ibu bapa ini akan membantu anak-anak agar tahu mengawal fungsi otak dan cara mengubah biokimia emosi.
Bagaimanapun, jika kita memperhatikan keputusan-keputusan yang diambil oleh kebanyakan individu dalam kehidupan seharian mereka, ternyata keputusan-keputusan yang dibuat dan diambil adalah lebih banyak ditentukan oleh emosi berbanding akal yang waras. Maka kita dapat lihat di sini, emosi sangat mempengaruhi kehidupan seseorang individu manusia ketika mana dia ingin membuat keputusan. Amat jarang sekali, seseorang individu itu mengambil sebarang keputusan berdasarkan pemikiran yang rasional. Sebaliknya, mereka lebih mengambil sesuatu keputusan tersebut berdasarkan emosi.
Kecerdasan emosi merupakan satu kemahiran yang melibatkan individu itu mengawal atau mengawasi diri sendiri dan juga individu lain dalam menghadapi sebarang permasalahan serta boleh membezakan sesuatu keadaan diri sendiri dan juga keadaan individu lain atau dengan kata lain, kemampuan seseorang individu itu mengendalikan emosi dan menahan diri dari melakukan sesuatu perkara yang negatif atau yang mendatangkan keburukan sama ada untuk diri sendiri juga orang lain.
Jika dikaitkan dengan Islam, kecerdasan emosi atau kemam-puan seseorang individu me-ngendalikan emosi dan menahan diri disebut sebagai sabar. Orang yang paling sabar adalah mereka yang paling tinggi dalam kecerdasan emosinya.

Jika dikaitkan dengan Islam, kecerdasan emosi atau kemampuan seseorang individu mengendalikan emosi dan menahan diri disebut sebagai sabar. Orang yang paling sabar adalah mereka yang paling tinggi dalam kecerdasan emosinya. Individu ini biasanya tabah dalam menghadapi kesulitan, tekun dalam membuat sesuatu perkara dan berlapang dada dalam menghadapi pelbagai cobaan. Kesulitan dan cobaan tidak mengganggu emosinya.
          Pendidikan akhlak dalam Islam merangkumi nilai-nilai murni seperti nilai moral, etika, adab, tingkah laku, sifat-sifat luaran dan dalaman serta perangai. Untuk ketahanan diri, ibu bapa perlulah memberi penekanan ilmu tauhid kepada anak-anak. Anak-anak tanpa didikan tauhid, ibadah dan akhlak yang mulia adalah tidak lengkap. Cerita-cerita yang boleh dijadikan contoh dan model kehidupan boleh digunakan dalam mendidik anak-anak.

Cara Membina dan Mengawal Emosi Agar Sentiasa Cerdas

Kehidupan di kawasan bandar sebenarnya menjadi salah satu sebab berubahnya kehidupan seseorang individu remaja. Mereka lebih terdedah kepada kehidupan yang penuh sosial dan terbuka serta memperolehi sesuatu perkara atau maklumat lebih cepat jika dibandingkan dengan para remaja yang berada di luar bandar.
Untuk itu, setiap individu itu perlu diajar dan dibimbing cara-cara mengawal perasaan marah, kurang sabar dan agresif dengan menggunakan cara yang positif. Di antara cara-cara mengawal emosi agar sentiasa stabil dan sederhana, kita semua boleh mencuba beberapa perkara seperti mengenal emosi diri sendiri, mengurus emosi diri sendiri, mengenali emosi orang lain, memotivasikan emosi yang negatif dan mengendalikan perhubungan melalui komunikasi.
Salah satu cara mengawal emosi agar sentiasa stabil dan sederhana adalah mengenal emosi diri sendiri. Seseorang individu itu perlulah cuba mengenal pasti atau cuba menyedari apakah emosi yang sedang dihadapi yang berlegar di fikiran serta apakah punca kepada timbulnya emosi tersebut. Kemudiannya, cuba kuasai emosi tersebut. Dengan kata lain, fikiran boleh menyebabkan wujudnya satu perasaan dan setelah wujudnya perasaan, maka timbullah keinginan untuk diperlakukan melalui perbuatan atau perlakuan.
Salah satu cara mengawal emosi agar sentiasa stabil dan sederhana adalah mengenal emosi diri sendiri. Seseorang individu itu perlulah cuba mengenal pasti atau cuba menyedari apakah emosi yang sedang dihadapi yang berlegar di fikiran serta apakah punca kepada timbulnya emosi tersebut. Kemudiannya, cuba kuasai emosi tersebut.

Cara lain mengawal emosi agar sentiasa stabil dan sederhana adalah mengurus emosi diri sendiri. Dalam konteks ini, seseorang individu itu perlulah pandai mengambil peluang mengawal emosi yang sedang menguasai diri. Emosi itu datang tanpa diundang tetapi diri sendiri yang menentukan berapa lama emosi itu menguasai diri dan apakah ia mendatangkan positif atau negatif.
Cara yang seterusnya adalah mengenali emosi orang lain. Dalam konteks ini pula, seseorang individu itu perlu mengenali perasaan diri sendiri dahulu, kemudiannya barulah cuba untuk mengenali, memasuki dan menjelajahi emosi individu yang lain pula atau dengan kata lain empati. Cara ini perlu bagi mengelakkan kekeliruan emosi terutamanya apabila ada individu lain yang mahu mencurahkan emosi mereka.
Cara yang keempat dalam mengawal emosi agar sentiasa stabil dan sederhana adalah memotivasikan emosi yang negatif. Dalam konteks ini pula, seseorang individu itu perlulah menjadikan emosi yang negatif itu sebagai satu alat untuk meningkatkan keupayaan dalam berfikir, merancang dan menyelesaikan sebarang masalah. Emosi yang negatif sebagai pemangkin kepada perubahan emosi yang positif.
Cara yang terakhir adalah mengendalikan perhubungan melalui komunikasi. Setelah mengenali emosi orang lain dan berjaya serta berupaya mengurus diri sendiri, maka perhubungan yang positif dan keakraban dapat dibentuk dan diwujudkan. Perhubungan dan keakraban ini boleh diwujudkan dengan lebih baik lagi melalui komunikasi dan ia boleh mengekspresikan pemikiran secara aktif tanpa diwarnai dengan kemarahan.
Melalui beberapa perkara yang diterangkan di atas, ia boleh digunakan untuk mengawal emosi agar stabil dan sederhana, beberapa unit organisasi yang terlibat perlu membantu seseorang individu. Di antara unit organisasi yang perlu membantu adalah seperti ibu bapa dan sistem pendidikan di Malaysia.
Ibu bapa merupakan agen yang utama dalam perkembangan dan pendidikan anak-anak. Remaja yang mempunyai tahap kecerdasan emosi yang tinggi dan memuaskan adalah berasal daripada keluarga yang mempunyai ibu bapa yang juga mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dan memuaskan.
Dalam hal ini, ibu bapa yang arif dan berpengalaman dalam banyak perkara perlulah menjadi mentor iaitu pembimbing atau penasihat serta jurulatih kepada anak-anak mereka pada setiap peringkat umur dan keadaan. Mereka iaitu ibu bapa bolehlah menggunakan peristiwa-peristiwa emosi dalam kehidupan anak-anak seperti marah, suka, duka, geram, irihati, takut, murung dan sebagainya dengan menjelas dan menyatakan bahawa emosi-emosi sedemikian merupakan situasi yang normal. Tetapi ia perlu diseimbangkan mengikut kesesuaian dan tidak menjejaskan diri dan individu yang lainnya.
Cara lain yang boleh digunakan oleh ibu bapa dalam mening-katkan kecerdasan emosi anak-anak yang berada di usia remaja adalah meminta maaf sekiranya ibu bapa bersalah sekalipun kesalahan itu kecil pada tanggapan diri ibu bapa tersebut.

Selain itu juga, ibu bapa perlulah menjelaskan kepada anak-anak tentang cara bagaimana membaca bahasa badan dan memahami perasaan diri dan individu yang lain iaitu yang dikenali sebagai empati.
Ibu bapa juga boleh memberikan kepada anak-anak yang remaja satu atau dua pekerjaan yang membolehkan mereka menyelesaikannya dengan baik. Cara ini perlulah dimulai dari kecil dan amat penting pada usia remaja. Jika mereka boleh berdikari, mereka harus memiliki nilai-nilai yang kuat yang ibu bapa tanamkan sebaik mungkin. Ibu bapa seharusnya memerhati dan kemudiannya menegur sekiranya perkara yang dilakukan terkeluar dari landasan yang sepatutnya.
Cara lain yang boleh digunakan oleh ibu bapa dalam meningkatkan kecerdasan emosi anak-anak yang berada di usia remaja adalah meminta maaf sekiranya ibu bapa bersalah sekalipun kesalahan itu kecil pada tanggapan diri ibu bapa tersebut.
Meminta maaf atas kesalahan yang ibu bapa lakukan menunjukkan kepada anak-anak remaja bahawa ibu bapa tersebut menghormati mereka sebagai seorang yang dewasa. Ibu bapa tersebut dapat mengurangkan perasaan takut terhadap sikap yang kurang serta ia boleh mencegah wujudnya sifat kebencian antara ibu bapa dan anak-anak.
Dalam sistem pendidikan di Malaysia pula, terdapat dua elemen yang boleh membantu pelajar-pelajar ini mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dan memuaskan. Dua elemen ini adalah pendidik atau guru dan sekolah.
Bagi elemen yang pertama dalam sistem pendidikan Malaysia, program-program seperti Sekolah Penyayang, Kem Motivasi dan sepertimana yang telah sedia ada di kebanyakan sekolah merupakan antara program yang menyediakan peluang-peluang pembelajaran kecerdasan emosi yang boleh dan telah lama diwujudkan oleh pihak sekolah.
Selain daripada itu, subjek-subjek seperti Pendidikan Islam, Pendidikan Moral, Kemahiran Hidup, Ekonomi Rumah Tangga dan beberapa subjek lain merupakan subjek-subjek yang boleh menerapkan nilai-nilai dan situasi kecerdasan emosi yang tinggi dan memuaskan.
Intervensi boleh dilaksanakan di peringkat awal bagi meningkatkan lagi kecerdasan emosi seseorang individu itu. Intervensi adalah campurtangan dalam urusan antara satu pihak dengan satu pihak yang lain. Untuk itu, elemen yang kedua iaitu pendidik, tidaklah perlu menunggu sehingga wujudnya kes disiplin yang mana kemudiannya pelajar tersebut dikehendaki berjumpa dengan guru disiplin atau guru kaunselor untuk dibimbing atau dipulihkan.
Hukuman merupakan satu tindakan yang perlu dielakkan oleh para pendidik kerana pada asasnya hukuman dari pendidik atau guru terhadap pelajar tidak mampu mengembangkan emosi secara wajar. Akibat buruk di masa-masa akan datang adalah pelajar-pelajar ini tidak boleh berdikari, kurang berinisiatif, kurang kepercayaan diri bahkan cenderung menjadi seorang yang pemalu dan penakut.
Para pendidik perlulah menyelitkan pembelajaran sosial dan emosi dalam kurikulum dan ko-kurikulam di sekolah. Sebagai contohnya, sesi suaikenal pada hari pertama persekolahan, menggalakkan para pelajar berkenal-kenalan dan memastikan para pelajar dapat menyesuaikan diri dengan persekitaran baru. Sama seperti ibu bapa, para pendidik boleh menggunakan peristiwa-peristiwa yang berlaku di dalam dan di luar kelas untuk memupuk kemahiran-kemahiran kecerdasan emosi.
Peristiwa-peristiwa seperti penyingkiran, kurang motivasi, tidak ada persetujuan antara dua pihak, pertengkaran, tindakan agresif dan sebagainya adalah antara contoh-contoh realistik yang negatif yang boleh digunakan untuk mengajar kecerdasan emosi. Kesedaran melalui tayangan video dan kaedah main peranan boleh diguna dan diamalkan oleh para pendidik dalam memberi kesedaran tentang kecerdasan emosi terhadap pelajar-pelajar.
Kecerdasan emosi perlu diajar dan diterapkan kepada semua individu pelajar bagi mengelakkan dari berlakunya kes-kes negatif yang boleh mengganggu perkembangan kecerdasan emosi. Ini kerana mengelak atau menghindari kes-kes negatif tadi adalah lebih baik dari mengubatinya. Kecerdasan emosi merupakan elemen yang penting dan perlu bagi menjalani dan menghadapi kehidupan pada masa-masa akan datang walaupun tanpa kehadiran ibu bapa, keluarga mahupun para pendidik.
Hasil daripada bimbingan dan didikan akan kecerdasan emosi tadi oleh ibu bapa dan para pendidik, beberapa manfaat akan diperolehi oleh seseorang individu yang mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dan memuaskan. Di antaranya adalah:-
  • Memiliki tolak ansur atau toleransi terhadap kekecewaan.
  • Mampu mengungkapkan kemarahan tanpa wujudnya pertengkaran.
  • Tidak menjadi agresif.
  • Mempunyai perasaan positif terhadap diri sendiri, ibubapa dan keluarga serta individu lain yang berada di sekeliling.
  • Mengurangi ekspresi verbal yang boleh menjatuhkan orang lain.
  • Meningkatkan kemampuan perhubungan dengan individu lain.
Untuk itu, para pendidik perlulah sedar dan sentiasa meningkatkan layanan dan hubungan antara pelajar kerana ia boleh membantu perkembangan dan pertumbuhan kecerdasan emosi pelajar, mengatasi perebutan pengaruh di sekolah dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan diri antara pelajar dan para pendidik yang lain.
Secara keseluruhannya, terdapat beberapa ciri atau karekteristik individu yang mempunyai kecerdasan emosi yang tinggi dan memuaskan. Di antaranya adalah:-
  • Seseorang individu itu mampu memotivasi diri, bebas dan percaya akan diri sendiri.
  • Seseorang individu yang mampu dan boleh mengawal dorongan dan menunda sesuatu perasaan yang negatif.
  • Seseorang individi itu boleh memulakan, menekuni dan menyelesaikan tugas.
  • Individu yang tidak menangguhkan kerja dan dia mengetahui bilakah sesuatu perkara itu perlu dilakukan.
  • Individu yang mampu menterjemah, mentafsirkan atau melahirkan pemikiran menjadi satu tindakan yang efektif dan bersesuaian dengan sesuatu keadaan.
  • Seseorang individu yang mengetahui dan mampu menggunakan kemampuannya.
  • Individu yang tidak takut untuk menanggung risiko serta boleh menerima kritikan dari orang lain.
  • Individu yang berusaha mengatasi kelemahan dirinya.
  • Individu yang seimbang dalam pemikiran, kreatif, analitis dan praktis.



45: Mungkin ini adalah subjek yang baru bagi sebahagian pembaca, namun ia adalah sesuatu yang telah ditekankan oleh Islam sejak 1400 tahun yang lalu. Kesabaran menghadapi dugaan, berlapang dada menghadapi masalah, berani menghadapi cabaran, yakin akan pertolongan Allah, bertawakal dan redha atas keputusan Allah, bersyukur atas apa-apa kejayaan, tidak putus asa atas apa-apa kegagalan, rendah diri sesama manusia, toleran untuk sentiasa berjamaah, menghubungkan silaturahim dan sebagainya, semuanya adalah sesuatu yang ditekankan oleh al-Qur’an dan al-Sunnah yang sahih. Sesiapa yang memiliki ciri-ciri mulia di atas, dia dikenali sebagai seorang yang berakhlak mulia dan memiliki jiwa yang tenang. Dalam istilah para pengkaji tingkah laku manusia sekarang ini, ia dikenali sebagai memiliki kecerdasan emosi yang tinggi. (Hafiz Firdaus)
46: Mahmood Nazar Mohamed. 2001. Pengantar psikologi: satu pengenalan asas kepada jiwa dan tingkah laku manusia. Kuala Lumpur: Dewan Bahsa dan Pustaka.
47: Goleman, D. 1995. What’s your emotional intelligence quotient? Utne reader, Nov/Dec 1995. http://trochim.human.cornell.edy.
48: http://www.iqeq.web.id/art/art01.shtml
49: http://www.iqeq.web.id/art/art01.shtml
50: Petrides, K. V. & Furnham, A. 2000. Gender differences in measured and self-estimated trait emotional intelligence. Sex roles, 42 (5-6), hal. 449 – 461.
51: Kyung Hee, Kim. 1998. A preliminary study on the development of emotional intelligence rating scale for preschool children.Korean journal of developmental psychology, 11 (2), hal. 31 – 48.
52: Curtis, L. S. 2000. Assessing the attainment of guidance outcomes related to the development of emotional intelligence skills and improved self-concept. Dissertation abstracts international section A: humanities & social sciences, 60 (8-A), hal. 2812.
53: Salovey, P. & Mayer, J. D. 1990. Emotional intelligence. Imagination, cognition and personality, 9, hal. 185 - 211.
54: Mayer, J. D. & Salovey, P. 1993. The intelligence of emotional intelligence. 17, hal. 433 - 442.
55: Young, C. A. 1996. Emotions and emotional intelligence dalam http://trochim.human.cornel.edu.
56: Goleman. D, 1996. What’s your emotional IQ? Reader’s digest. May, hal. 17-20.
57: Abdul Fatah Hasan, Haji. 1998. Pemikiran keseluruhan otak [dalam penguusan pendidikan dan kaitannya dengan kecerdasan emosi (emotional intelligence – EQ)]. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd.
58: Abdul Fatah Hasan, Haji. 1998. Pemikiran keseluruhan otak [dalam penguusan pendidikan dan kaitannya dengan kecerdasan emosi (emotional intelligence – EQ)]. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd.
59: Mayer, John D., Caruso, David R. & Salovey, Peter. 1999. Emotional intelligence meets traditional standards for an intelligence. Intelligence, 27, hal. 267 – 298.
60: Schutte, N. S., Malouff, J. M., Hall, L. E., Haggerty, D. J., Cooper, J. T. & Golden, C. J. 1998. Development and validation of a measure of emotional intelligence. Personality & individual differences, 25 (2), hal. 167 – 177.
61: Hawkins, J. D. et. al. 1992. The seattle social deevelopment project: the prevention of antisocial behavior in chil dren. New York: Guillford.
62: Salovey, P. & Mayer, J. D. 1990. Emotional intelligence. Imagination, cognition and personality, 9, hal. 185 - 211.
63: Liew Phaik Guat Selina , Gan Teck Hock dan Sia Pong Won. 1995. Tahap kecerdasan emosi murird-murid tahun lima di kawasan Miri. Latihan Ilmiah. Universiti Malaysia Sarawak.
64: Brody, L. R. & Hall, J. A. 1993. Gender and emotion. New York: Guilford Press.
65: Liew Phaik Guat Selina , Gan Teck Hock dan Sia Pong Won. 1995. Tahap kecerdasan emosi murird-murid tahun lima di kawasan Miri. Latihan Ilmiah. Universiti Malaysia Sarawak.
66: Kyung Hee, Kim. 1998. A preliminary study on the development of emotional intelligence rating scale for preschool children.Korean journal of developmental psychology, 11 (2), hal. 31 – 48.
67: Schutte, N. S., Malouff, J. M., Hall, L. E., Haggerty, D. J., Cooper, J. T. & Golden, C. J. 1998. Development and validation of a measure of emotional intelligence. Personality & individual differences, 25 (2), hal. 167 – 177.
68: Patricks, K. V. & Furnham, A. 2000. Gender differences in measured and self-estimated trait emotional intelligence. Sex roles, 42 (5-6), hal. 449 – 461.
69 Curtis, L. S. 2000. Assessing the attainment of guidance outcomes related to the development of emotional intelligence skills and improved self-concept. Dissertation abstracts international section A: humanities & social sciences, 60 (8-A), hal. 2812.
70: Pusat Perkembangan Kurikulum Kementerian Pendidikan Malaysia. 1983. Garis panduan kurikulum bersepadu sekolah rendah. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
71: Twelve years old boys beats teacher to death in South China. 1997. The Borneo Post. 23rd October 1997.
72: Haan, N, Langer, J. & Kohlberg, L. 1976. Family patterns of moral reasoning. Child development, 47, hal. 1204 – 1206.
73: Parikh, B. 1980. Development of moral judgement  and its relation to family environmental factors in Indian and American families. Child development, 51, 1030 – 1039.
74: Abdul Fatah Hasan, Haji. 1998. Pemikiran keseluruhan otak [dalam penguusan pendidikan dan kaitannya dengan kecerdasan emosi (emotional intelligence – EQ)]. Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd.
75: Ibid 29.
76: Beliau adalah seorang Ketua Biological Psychiatry Brach of the National Institute of Mental Health.